high-performance-cultureBudaya perusahaan adalah keyakinan dan perilaku yang menentukan bagaimana karyawan dan manajemen perusahaan berinteraksi dan menangani permasalahan eksternal dengan tujuan agar perilaku seluruh SDM dalam perusahaan mampu menjawab tantangan bisnis yang dihadapi perusahaan. Kunci keberhasilan penerapan high performance culture adalah adaptasi dan integrasi.

Adaptasi dengan tuntutan lingkungan eksternal menjadi langkah penting yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus dilakukan oleh perusahaan.  Hal ini karena perusahaan dipengaruhi secara signifikan oleh beberapa stakeholder eksternal seperti konsumen, supplier, instansi, partner kerja, vendor. Kondisi makro dan mikro ekonomi juga membawa dampak yang dahsyat bagi perusahaan.

Kemampuan dalam mengintegrasikan tuntutan lingkungan eksternal ke dalam bentuk-bentuk perilaku SDM di internal perusahaan merupakan tantangan yang tidak bisa dianggap sepele bagi perusahaan, utamanya bagi perusahaan yang telah lama didirikan. Why? Karena biasanya sudah berjalan dengan mapan budaya kerjanya, sehingga untuk melakukan perubahan memerlukan effort yang cukup tinggi.

Tiga Langkah ke Budaya-High Performance

Manajemen cenderung berpikir bahwa budaya perusahaan sebagai topik yang sulit untuk diukur dan mustahil untuk dirubah. Akibatnya, banyak yang memilih untuk tidak mau berinvestasi untuk menyusun dan mengimplementasikan budaya yang sesuai untuk keberlangsungan perusahaan dan agar memiliki keunggulan kompetitif.

Beberapa perusahaan yang concern mengembangkan budaya perusahaan sebagai contoh adalah Bank Mandiri, Telkomsel, PT. Pos, Pelindo, mampu meningkatkan kinerja pegawai secara signifikan, pelayanan pelanggan yang lebih baik, dan ujung-ujungnya adalah pertumbuhan laba perusahaan yang meningkat dengan stabil (sustainable).

Apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan budaya perusahaan yang dapat mendongkrak kinerja perusahaan? Berikut 3 langkah strategis sebagai best practice yang telah dilakukan oleh para implementor sukses budaya perusahaan:

Langkah 1: Membangun Pemahaman Bersama tentang Budaya Perusahaan dan Tolok Ukurnya

Manajemen perlu merumuskan budaya apa yang menjadi prioritas utama untuk direalisasikan beserta indicator dan tolok ukur keberhasilannya. Apakah perusahaan mentarget adanya peningkatan budaya kinerja dengan ukuran peningkatan produktifitas 10% lebih banyak? Atau, perusahaan ingin menekankan budaya customer focus dengan indicator peningkatan hasil survey kepuasan pelanggan sebesar 2 point, dst. Prinsip realistis dan terukur menjadi key points.

Langkah 2: Fokus pada Sedikit Perubahan yang Paling Penting Saja

Jangan terlalu berambisi dapat melakukan perubahan budaya kerja dalam banyak hal dan dalam waktu singkat. Tetapkan paling banyak 3 budaya kerja yang akan menjadi prioritas utama untuk diimplementasikan. Buat desain perubahannya dan fokuskan pada implementasi dan penanganan kendala-kendala teknis yang dihadapi terutama saat masa transisi perubahan budaya kerja.

Langkah 3: Mengintegrasikan Upaya Perubahan Budaya dengan Inisiatif Perbaikan Bisnis.

Dalam beberapa kasus, banyak keluhan muncul dari para change agent atau change champion serta pegawai pada umumnya, dalam implementasi budaya kerja baru. Mereka merasakan adanya beban kerja tambahan yang tidak ringan di luar pekerjaan rutin sebelumnya. Untuk mengatasi hal ini, desain untuk transformasi budaya harus disesuaikan dengan pekerjaan yang dikerjakan pegawai, bukan aktifitas tambahan lain. Dengan dimikian, SDM yang terlibat menjadi lebih termotivasi karena justru akan memberikan dampak yang lebih baik pada pekerjaannya.

Membangun high performance culture merupakan tantangan bagi perusahaan apabila ingin tetap eksis di kancah kompetisi bisnis yang semakin terbuka saat ini. Di tengah cepatnya perubahan lingkungan eksternal, hanya ada dua pilihan bagi perusahaan, berubah atau tertindas.