Praktek kepemimpinan berkembang mengikuti perkembangan zaman. Kepemimpinan di era digital memiliki pendekatan yang khas karena digitalisasi yang merambah dunia kerja tidak lagi memungkinkan pemimpin untuk bertindak secara konvensional.

Studi terbaru yang bertujuan mengidentifikasi karakter organisasi yang sukses pada era ekonomi digital dilakukan oleh Oxford Economics yang didanai oleh SAP dengan melibatkan lebih dari 4000 eksekutif yang tersebar di 21 negara.

Studi ini menemukan bahwa hanya 1 dari 5 eksekutif yang dianggap layak disebut sebagai digital leader. Artinya, banyak pemimpin yang belum aware bahwa di era digital pemimpin perusahaan harus memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan sebelumnya.

Mengapa Perlu Kepemimpinan Digital?

  1. Perusahaan-perusahaan yang memiliki pemimpin digital merasakan tingkat kepuasan kerja karyawan yang lebih tinggi sebesar 87 % dari jumlah karyawan.
  2. Terdapat 76 % ekskutif yang termasuk dalam digital leader membawa perusahaannya memperoleh pendapat lebiih besar dibandingkan dengan eksekutif lainnya.
  3. Terdapat 80% persen pemimpin digital membuat keputusan berdasarkan data, dan menariknya 63% di antaranya menyampaikan bahwa perusahaan mereka mampu membuat keputusan secara real time.
  4. Gaya kepemimpinan yang inklusi, mudah berbaur, struktur yang lebih dinamis membuat keinginan untuk bertahan di perusahaan tinggi sehingga tingkat turn over lebih rendah.

5 Dimensi Kepemimpinan Di Era Digital

Dimensi kepemimpinan di era digital pada dasarnya tidak menggantikan model kepemimpinan pada era-era sebelumnya. Dimensi kepemimpinan baru yang merupakan pengaruh perkembangan teknologi informasi lebih bersifat memperluas pengertian tradisional tentang kepemimpinan yang efektif dengan menambahkan elemen digital pada persyaratan dan tanggung jawab pemimpin.

Meskipun dimensi baru ini terutama diterapkan pada pemimpin organisasi puncak, namun prinsip dasarnya relevan untuk semua tingkat kepemimpinan.

Digital Literacy. Pemimpin harus melek digital mengikuti perkembangan teknologi digital. Demikian pula, mereka harus memastikan orang-orang yang bekerja untuk mereka juga melek digital.

Aplikasi Teknologi Sosial dan Digital. Pemimpin harus dapat melihat potensi pengembangan teknologi inovasi dalam menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. Mereka juga harus memahami bahwa teknologi sosial dan digital dapat dimanfaatkan secara internal untuk meningkatkan komunikasi dan kolaborasi, meningkatkan inovasi, mengefektifkan operasional dan memperbaiki kinerja individu dan kelompok. Selain itu, mereka harus menyadari bahwa pengelolaan SDM dapat ditransformasikan oleh teknologi sosial dan digital.

Implikasi Teknologi Sosial dan Digital. Pemimpin harus memahami bahwa teknologi sosial dan digital mengubah sifat pekerjaan, dan mengubah pendekatan mereka terhadap pengelolaan tenaga kerja. Resiko penerapan teknologi digital juga perlu diantisipasi, misalnya berdampakk pada berkurangnya penggunaan tenaga kerja karena tergantikan dengan teknologi.

Transformasi Digital. Pemimpin penting untuk meletakkan fondasi dan memfasilitasi transformasi digital. Mereka harus menyadari bahwa proses menjadi organisasi digital laksana lari maraton bukan sprint dan memerlukan pendekatan holistik, dan terpadu.

Digitally-Savvy Leadership Style (Gaya Kepemimpinan Digital). Pemimpin harus menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka untuk memenuhi tuntutan dan harapan yang berorientasi digital. Mereka harus melakukan beberapa perubahan sikap yang penting, termasuk menerima kehilangan kontrol, dan mengembangkan sikap yang lebih inklusif dan partisipatif dalam memimpin.

Dalam praktek kepemimpina di era digital, para pemimpin harus bersedia dan mampu berkomunikasi dengan cara baru dengan menggunakan saluran dan alat baru, dengan penekanan lebih besar pada dialog dan kolaborasi dan lebih sedikit penekanan pada perintah dan kontrol. Komunikasi digital harus sepenuhnya terintegrasi ke dalam cara-cara di mana mereka terhubung dengan orang lain.