Teori Perilaku yang Direncanakan Beserta Contoh

Setelah memahami Teori Perilaku Terencana sekarang kita mencoba menjelaskan manfaatnya melalui contoh.

Sebuah toko ritel baru saja meluncurkan aplikasi toko onlinenya, dengan harapan pelanggan beralih belanja secara online, tapi setelah beberapa lama para pelanggan masih sedikit yang memanfaatkannya. Mengapa? Sebuah survei yang dibuat berdasar Theory of Planned Behavior, digunakan untuk memahami keyakinan pelanggan tentang belanja online. Dengan mengajukan serangkaian pertanyaan terbuka, didapatkan data berikut:   

1. Sikap

Hasil menunjukkan beberapa pelanggan menikmati kenyamanan berbelanja online, sementara yang lain ingin membeli di toko daripada menunggu pengiriman. Banyak pelanggan toko yang berusia lanjut percaya bahwa tidak aman melakukan pembayaran secara online.

2. Norma Subyektif

Responden mengatakan bahwa teman dan keluarganya yang pernah mencoba berbelanja online, tidak mengalami kendala dalam melakukan pembelian. Responden menyatakan bahwa teman mereka yang lebih muda sebenarnya lebih suka membeli secara online.

3. Kontrol Perilaku yang Dirasakan

Ketika ditanya tentang hambatan berbelanja online, banyak pelanggan yang berusia lanjut mengatakan bahwa mereka merasa bahwa teknologi ini membingungkan, dan ini menghambat mereka melakukan pembelian. Survei tersebut juga memunculkan beberapa masalah lain:

Beberapa orang suka menyentuh dan memeriksa produk sebelum membelinya.  

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa adalah mungkin untuk membeli produk toko secara online.

4. Niat

Dalam survei tersebut, banyak pelanggan menyoroti bahwa mereka ingin menggunakan toko online tetapi belum melakukannya hanya karena mereka merasa belanja secara online masih belum terbiasa dan merasa khawatir.

Contoh Kesimpulan

apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya?

Pelanggan yang merasa belum aman perlu mendapat edukasi dan pembimbingan dari petugas toko agar transaksi yang dilakukannya sesuai prosedur keamanan. Hingga selanjutnya pelanggan bisa melakukan transaksi sendiri.

Untuk membantu membangun kesadaran akan toko online, petugas kasir di dalam toko mengingatkan pelanggan bahwa mereka dapat membeli produk secara online.

Untuk menjembatani kesenjangan niat di mana pelanggan ingin menggunakan toko online tetapi belum terbiasa dan merasa kewalahan, toko menawarkan petugas pemandu melalui seluruh proses untuk pembelian online pertama.

Meskipun contoh ini mengkaji teori dari perspektif bisnis, model ini umumnya digunakan dalam perencanaan kesehatan masyarakat, misalnya, seperti  mendorong penduduk untuk makan makanan yang lebih sehat.

Kelebihan

Model ini berguna untuk membuat prediksi.Dengan mempertimbangkan beberapa variabel sebagai masukan ke dalam model, ini memberikan lebih banyak keandalan dalam prediksi perilaku. 

Sebelum mempertaruhkan investasi untuk melakukan perubahan, model ini dapat digunakan untuk mengumpulkan data demi membantu Anda mengidentifikasi hambatan terbesar untuk mengubah perilaku.

Kekurangan

Ada situasi di mana model mengalami kegagalan. Meskipun mungkin ada niat perilaku positif, model tidak memperhitungkan kesenjangan antara niat dan perilaku. Anda dapat memperluas model dengan tujuan implementasi untuk mengatasi masalah ini. 

Model tidak memasukkan faktor perilaku lain seperti emosi. Emosi dapat memengaruhi persepsi dan keyakinan serta kecenderungan kita untuk mengambil tindakan.

Model ini sangat bagus untuk menemukan hubungan sikap dengan niat perilaku. Tapi tidak membahas bagaimana menentukan tindakan yang menghasilkan perubahan perilaku.

Jika Anda mengelola tim , Anda dapat menggunakan model ini untuk menilai kemungkinan bahwa anggota tim Anda akan berperilaku dengan cara tertentu. Anda juga dapat menggunakannya untuk menilai kemungkinan bahwa pelanggan Anda akan bertindak dengan cara tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.