Dimensi Budaya Hofstede (4)

Dimensi budaya keempat dalam teori ini adalah tingkat keengganan masyarakat menghadapi kondisi tidak pasti (UAI). Semakin tinggi skornya semakin enggan masyarakat berada dalam ketidakpastian.

Contoh Penerapan: Dalam model Hofstede, Yunani memiliki skala UAI sebesar 100, sementara Singapura mendapatkan skor terendah dengan nilai delapan. Oleh karena itu, saat mengadakan pertemuan bersama masyarakat Yunani, Anda mungkin tertarik untuk berdiskusi, karena Anda menyadari bahwa ada kecenderungan budaya bagi anggota tim untuk membuat keputusan yang paling aman dan paling konservatif, meskipun ada ledakan emosi. Apalagi bila Anda memiliki tujuan mendorong mereka untuk menjadi lebih terbuka terhadap ide dan pendekatan yang berbeda, tetapi mungkin akan membantu jika memberikan serangkaian opsi atau solusi yang relatif terbatas dan terstruktur.

Tips dan karakteristik UAI rendah:

  • Keterbukaan terhadap perubahan atau inovasi, dan umumnya inklusif.
  • Lebih cenderung ke pembelajaran terbuka atau pengambilan keputusan.
  • Kurangnya rasa urgensi.
  • Pastikan orang-orang tetap fokus, tetapi jangan membuat terlalu banyak struktur.
  • Gelar tidak terlalu penting, jadi hindari “memamerkan” pengetahuan atau pengalaman Anda. Rasa hormat diberikan kepada mereka yang dapat mengatasi masalah dalam segala keadaan.

Tips dan karakteristik UAI Tinggi:

  • Konservatif, kaku dan terstruktur, kecuali saat menghadapi bahaya kegagalan, sikap yang lebih fleksibel baru dipertimbangkan.
  • Banyak konvensi masyarakat.
  • Orang-orang ekspresif, dan diizinkan untuk menunjukkan kemarahan atau emosi, jika perlu.
  • Masyarakat lebih bersemangat jika merasa menguasai keadaan.
  • Jelas dan ringkas mengenai harapan dan tujuan. Tetapkan pula parameter yang jelas. Tapi dorong pemikiran kreatif dan dialog di mana Anda bisa.
  • Kenali bahwa mungkin ada “aturan” yang tidak diucapkan atau harapan budaya yang perlu Anda pelajari.
  • Kenali bahwa emosi, kemarahan, dan gerakan tangan yang agresif mungkin hanya menjadi bagian dari percakapan.

5. Kecenderungan Mengadopsi Cara Pandang Pragmatis (PRA)

Dimensi ini menggambarkan cara orang-orang menghubungkan pengalaman masa lalu mereka dengan tantangan di masa kini dan masa depan. Hal ini menciptakan dua cara pandang yang berbeda, yaitu normatif atau pragmatis.

Masyarakat dengan skor PRA rendah cenderung memiliki cara pandang normatif. Orang-orang cenderung lebih menekankan pada prinsip, konsistensi serta kebenaran, dan biasanya religius. Orang-orang cenderung memiliki kecurigaan yang tinggi terhadap perubahan karena biasanya itu akan menguubah atau bahkan bertentangan dengan nilai atau tradisi mereka selama ini.

Di sisi lain, masyarakat yang pragmatis melihat kebenaran sebagai sesuatu yang bergantung pada konteks, situasi dan waktu. Orang-orang memiliki kemampuan menyesuaikan tradisi atau nilai terhadap perubahan kondisi dengan relatif mudah. Mereka lebih mengedepankan pertimbangan yang fungsionalis dan menekankan manfaat jangka pendek.

Contoh Aplikasi: orang AS memiliki nilai PRA tinggi, berorientasi jangka pendek. Hal ini tercermin dalam pentingnya keuntungan jangka pendek dan hasil yang cepat (laporan laba rugi dilakukan setiap tiga bulan, misalnya). Hal ini juga tercermin dalam rasa nasionalisme dan standar sosial yang kuat di negara ini.

Tips dan karakteristik masyarakat dengan skor PRA rendah:

  • Orang sering ingin bertanya “Mengapa?”
  • Terdapat keyakinan yang kuat.
  • Karena orang cenderung mengunggulkan diri sendiri secara berlebihan, orang lain akan menilai pernyataan mereka secara kritis.
  • Nilai normatif ditekankan.
  • Jual atau unggulkan diri Anda agar dianggap serius.
  • Orang kurang mau berkompromi karena ini akan dilihat sebagai kelemahan.
  • Pujian dapat lebih memberi dampak positif pada pemberdayaan.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.