Kesalahan Mendasar dalam Pengelolaan Keuangan Pribadi

Apakah kita merasa keuangan kita tidak pernah bertambah dari waktu ke waktu. Lama kerja tapi tidak pernah bisa menabung. Banyak sekali contoh orang-orang yang sukses secara keuangan mengalami keterpurukan karena salah mengelola uang yang mereka miliki.. Apa sih sebenarnya pokok permasalahan pengelolaan keuangan kita? Berikut rindciannya:

Terlalu melibatkan emosi

Apakah Anda sering merasa sedih saat mengetahui saldo rekening ternyata kosong? Pernahkah merasa senang mendapat rejeki nomplok tapi ujung-ujungnya tidak bersisa? Bisa jadi ini karena Anda terlalu melibatkan emosi atau perasaan dalam pengelolaan uang Anda. Tanamkan dalam benak bahwa uang adalah angka dan angka bisa plus atau minus, tergantung pengelolaannya. Karena sekadar angka, maka jangan terlalu berperasaan terhadap uang. Kalau uang sedang sedikit, tidak perlu terlalu bersedih, jika sedang banyak, jangan senang berlebihan. Jangan sombong. Apapun kondisinya biasa saja. Memang kita punya perasaan, tapi jangan terlalu berlebihan. Ketika terlalu terbawa emosi, kita cenderung melakukan kesalahan pengambilan keputusan. Itu yang berbahaya. 

Tidak membuat perencanaan 

Walaupun memiliki uang banyak, jika tidak memiliki perencanaan, maka uang itu akan mengalir ke mana-mana tanpa arah. Uang memang banyak, tapi rasanya mengapa begitu-begitu saja. Itulah akibat dari tidak melakukan perencanaan keuangan. Hasil akhirnya kita tidak akan merasakan manfaatnya. Bagaimanapun juga keuangan harus direncanakan. Bisa diawali dengan perencanaan sederhana. Secara bertahap dibuat semakin  rinci. Semakin besar jumlah uang yang tidak direncanakan, semakin lemah pola keuangan kita. 

Tidak memiilah-milah uang 

Banyak orang punya bisnis bernilai miliaran tetapi pusing karena kekurangan. Sebuah pengalaman seorang pengusaha mebel yang keuntungan bersihnya 350 juta perbulan, tapi ia merasa tidak tnang dan merasa penghasilannya tidak mencukupi. Ternyata setelah berkonsultasi, permasalahannya adalah tidak memilah-milah keuangannya. Uang memang harus dipisah dalam beberapa bagian yang lebih kecil agar mudah diatur. Apakah uang itu banyak atau sedikit, dari gaji atau hasil berjualan; apakah keuangan seorang pengusaha, pegawai, pedagang asongan, pemilik toko, apapun itu, minimal kita menyediakan dua pos, yaitu modal dan keuntungan. Selanjutnya bisa ditambahkan pos biaya listrik, pulsa, makan, biaya sekolah, dan sebagainya. 

Tidak mencatat pengeluaran 

Ketika berbelanja di mini market atau beli bensin, Anda mendapat struk. Kumpulkan itu semua. Untuk apa? Itu memudahkan pencatatan. Anggap saja itu uang perusahaan yang harus dilaporkan. Catatlah semua pengeluaran jangan sampai ada yang terlewat. Jumlah uang dan catatan harus sama. Pencatatan yang baik bisa memudahkan kita mengatur keuangan. 

Tidak melakukan evaluasi 

Banyak dari kita mungkin sudah benar melakukan  semua hal di atas, tapi tidak pernah melakukan evaluasi. Itu sama saja bohong. Evaluasi dilakukan terus menerus untuk memperbaiki pola pengelolaan keuangan kita. Pada titik-titik tertentu kita pasti akan mengalami dinamika yang ekstrim, misalnya: masa pendaftaran sekolah, ada yang sakit, atau menang hadiah undian. Di saat inilah hasil dari evaluasi bermanfaat. 

Memang kita tidak mungkin bisa benar 100% di awal, tetapi ini adalah masalah kebiasaan. Seseorang yang punya kebiasaan baik dalam mengatur keuangan, ia akan memiliki keuangan yang sehat. Entah dia seorang pkerja atau pebisnis, dia akan memiliki kehidupan finansial yang lebih longgar. Jika tidak memiliki pola pengaturan uang, maka akan selalu mengalami kesulitan. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.