Dimensi Budaya Trompenaars bag 1

Permodelan Dimensi Budaya ini juga dikenal sebagai 7 Dimensi Budaya. Konsep ini diharapkan dapat membantu Anda bekerja lebih efektif dengan rekan kerja yang berasal dari berbagai latar budaya.

Bisnis kini semakin global menembus batas budaya dan bangsa, apalagi teknologi komunikasi seolah menghapus jarak dan waktu, sebagai akibatnya sebuah tim bisa menjadi lebih beragam. Pada berbagai kesempatan kita mungkin diperlukan untuk bekerja dengan orang dari negara dan budaya lain.

Perbedaan budaya sangat memungkinkan terjadinya salah paham, ini tentu saja menghambat pekerjaan. Demi meminimalisir salah paham karena budaya, konsep Dimensi Budaya Trompenaars bisa Anda gunakan.

Konsep ini pertama kali dijelaskan dalam buku,”Riding the Waves of Culture: Understanding Diversity in Global Business”. Ditulis oleh Fons Trompenaars dan Charles Hampden-Turner pada tahun 1993. Ketika membuat model ini, mereka mensurvei lebih dari 40.000 manajer dari 40 negara.

Karya itu tidak mempelajari etika atau budaya secara detail. Buku itu dapat membuat Anda melangkah keluar dari bias persepsi dan stereotip yang keliru atas suatu budaya. Dengan begitu, Anda dapat melihat bagaimana budaya lain melakukan pendekatan terhadap suatu masalah. Kemudian harapannya dapat memunculkan ide bagaimana menghindari kesalahpahaman karena beda budaya.

7 Dimensi Kebudayaan

Konsep 7 Dimensi Budaya membedakan budaya berdasarkan preferensinya dalam 7 dimensi berikut:

  1. Universalis atau partikularis.
  2. Individualis atau komunitarian.
  3. Dipisah atau dicampur.
  4. Netral atau afektif.
  5. Menurut apaatau menurut siapa.
  6. Berurutan atau bersamaan.
  7. Internal atau eksternal.

Sekarang kita akan mulai membahas hal di atas satu demi satu. Karena pembahasan yang panjang, tulisan ini akan terbagi dalam beberapa bagian.

1. Universalis atau partikularis

Dimensi ini dapat dipahami dengan mempertanyakan manakah yang lebih penting, aturan atau hubungan?

Budaya yang bernuansa universalis cenderung memperlakukan semua permasalahan dengan sama, bahkan jika itu melibatkan teman atau orang terdekat. Fokusnya lebih pada menaati aturan daripada mempertahankan hubungan. Masyarakat yang berpandangan universalis diantaranya adalah Kanada, Inggris, dan Australia.

Budaya yang bersifat partikularis menilai hubungan lebih penting daripada aturan. Dalam budaya ini aturan masih bisa dibengkokkan demi kepentingan anggota keluarga, teman dekat, atau orang penting lainnya. Setiap permasalahan harus dipilah-pilah berdasarkan kondisi tertentu. Contoh masyarakat dengan budaya partikularis diantaranya Amerika Latin, Korea, Cina, dan Rusia.

Kiat bekerja bersama masyarakat universalis:

  • Selaluu tepati janji.
  • Konsisten.
  • Jelaskan pertimbangan logisnya ketika membuat sebuah keputusan tertentu.

Kiat ketika bekerja dengan budaya partikularis:

  • Sediakan waktu tersendiri untuk membangun hubungan agar Anda dapat memahami kebutuhan khusus orang lain.
  • Hormati kebutuhan itu sebanyak mungkin dalam pengambilan keputusan.
  • Sebutkan aturan penting khusus yang harus diikuti.

berlanjut ke bagian ke-2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.