Otak yang Cenderung Membenarkan Asumsi

Untuk menjadi pemimpin yang lebih baik, Anda perlu menyadari dan mengkritisi berbagai jenis asumsi. Tetapi mengidentifikasi itu tidaklah mudah. Karena semakin banyak Anda tahu tentang bisnis, industri, pasangan, keluarga, dan teman, semakin banyak asumsi yang Anda pertimbangkan.

Asumsi ini menciptakan sisi gelap penghalang untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Agar bisa mengkritisi suatu permasalahan secara tepat, Anda perlu menerangi sisi gelap tersebut. Asumsi adalah keyakinan yang kita anggap benar, dan seringkali berbeda dari kenyataan. 

Kuncinya adalah memahami berbagai asumsi yang Anda miliki, bahkan yang mungkin tidak Anda sadari, untuk selanjutnya mengkonfirmasi atau menyangkal validitasnya. Jika tidak, pemahaman Anda bisa jadi terlalu dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, berpotensi mengarahkan Anda ke arah yang keliru.

Kodak, misalnya, berasumsi bahwa mereka adalah sebuah perusahaan film, tetapi kenyataannya, mereka adalah bisnis yang mengabadikan momen dan berbagi pengalaman. Hal ini membuat perusahaan mengabaikan segala urusan selain film, seperti inovasi kamera digital, hingga saat mereka tersadar semuanya sudah terlambat. Jika itu bisa terjadi pada Kodak, itu bisa terjadi pada kita.

Mengapa Anda Berasumsi

Fenomena psikologis yang disebut bias konfirmasi menyebabkan kita mengabaikan informasi yang tidak sesuai dengan keyakinan kita. Berita dan bukti yang bertentangan cenderung diabaikan. setiap kali kita mendengar informasi yang mendukung asumsi kita, otak mengaktifkan area yang terkait dengan penghargaan. Bahkan ketika kita 99% keliru, otak mencari 1% pembenaran sehingga pada akhirnya pembenaran itulah yang kita lakukan.

Kita harus menyadari kecenderungan ini lalu mengubah penilaian dan menerapkan strategi untuk meningkatkan objektivitas. Menyadari adanya bias adalah langkah pertama yang baik. Ingatkan diri sendiri bahwa kita memiliki kecenderungan ini. Ego serta kesombongan menyebabkan pengambilan keputusan yang buruk. Kesediaan mengakui kesalahan sangat penting untuk mengurangi tingkat kegagalan memahami asumsi.

Menyingkirkan Asumsi yang Keliru

Langkah pertama untuk mengidentifikasi asumsi adalah mendaftarnya. Misal saja mengenai perusahaan Anda, apa asumsi Anda tentang organisasi di perusahaan Anda, bidang industrinya, pesaingnya, pelanggannya, atau produknya?

Satu petunjuk sederhana untuk mengenali asumsi adalah ketika seseorang berkata, “Kami selalu melakukannya dengan cara ini,” atau “Kami tidak pernah melakukannya dengan cara itu.” 

Setelah Anda mengidentifikasinya, sering kali akan bermanfaat untuk bertanya lebih lanjut, “adakah asumsi lain yang mendasari suatu asumsi?”

Cara lainnya untuk menggali asumsi adalah melalui penceritaan. Misalkan Anda sedang mendesain ulang mobil. Anda bisa mulai dengan bertanya, “Apa yang kita ketahui tentang mobil?” Misalnya, mobil memiliki empat roda. Lalu ceritakan dengan terperinci. Mobil memiliki empat roda. Apakah harus empat roda? Bagaimana jika hanya memiliki tiga roda? Apa untungnya? Bagaimana jika menggunakan lima roda?

Mintalah karyawan dan pelanggan untuk bercerita juga. Buatlah transkrip. Carilah kalimat yang mungkin menyiratkan asumsi. Asumsi paling berbahaya bersifat implisit, tidak eksplisit.

Langkah berikut adalah membalijk kenyataan. Bagaimana jika apa yang Anda yakini benar ternyata keliru? Apa implikasinya? Bagaimana jika Anda menggunakan cara yang  berbeda? Segala yang Anda ragukan kebenarannya, bagaimana jika itu memang benar?

Berikan pertimbangan yang tepat untuk setiap asumsi. Setelah itu, pahami dan validasi mana yang benar dan mana yang keliru.

Pahamilah asumsi Anda dengan baik. Asumsi yang tidak Anda sikapi dengan kritis dapat memengaruhi bisnis — dan kehidupan Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.