kepemimpinan yang Melayani (1)

Kepemimpinan yang melayani adalah filosofi kepemimpinan yang dibangun di atas keyakinan bahwa para pemimpin yang paling efektif akan berusaha untuk melayani orang lain, bukannya memperoleh kekuasaan atau mengambil kendali. Orang lain yang dimaksud dapat mencakup pelanggan, partner, sesama karyawan, dan komunitas pada umumnya.

Sejarah

Istilah ini diciptakan oleh pakar manajemen Robert K. Greenleaf dalam sebuah esai, “The Servant as Leader,” yang diterbitkan pada tahun 1970. Menurut Greenleaf, ide ini tumbuh dari bacaannya tentang Journey to the East oleh penulis Jerman Hermann Hesse. Novell tersebut menceritakan kisah sekelompok tokoh dalam pencarian “Kebenaran tertinggi.” Ketika seorang pelayan yang memiliki sikap rendah hati yang ditugaskan untuk mengurus kebutuhan mereka menghilang, kelompok itu bertengkar dan meninggalkan pencariannya. Jauh kemudian, narator mengungkapkan bahwa pelayan yang rendah hati itu sebenarnya adalah pemimpin yang membimbing pencarian tersebut.

Seperti yang didefinisikan oleh Greenleaf, pemimpin yang melayani tidak dimotivasi oleh manifestasi kekuasaan tradisional. Kepemimpinan ini dimulai dengan perasaan bahwa seseorang ingin melayani. … Kemudian pilihan sadar membawa seseorang itu menjadi pemimpin. Orang seperti itu sangat berbeda dari orang yang sejak awal memang ingin menjadi pemimpin, yang enntah karena ingin memiliki kekuasaan atau untuk memperoleh harta benda. …

… Perbedaannya terlihat dari perhatian yang diberikan, pelayan terlebih dahulu memastikan bahwa kebutuhan prioritas tertinggi orang lain terpenuhi. Ujian terbaik dan tersulit untuk dilakukan adalah: Apakah mereka yang dilayani bertumbuh sebagai pribadi? … [dan menjadi] lebih mandiri, lebih cenderung menjadi pelayan?

Konsep kepemimpinan yang melayani telah ada sebelum Greenleaf – dan Hesse – selama berabad-abad. Dalam membahas kepemimpinan yang melayani, para ahli manajemen sering mencatat bahwa filsuf Tiongkok kuno Laozi menulis tentang konsep tersebut pada abad kelima SM, ketika ia menggambarkan tipe penguasa tertinggi sebagai seseorang yang mengalihkan perhatian:
“Orang bijak tidak menonjolkan diri dan sedikit kata-kata. Ketika tugas dan segala sesuatunya telah selesai, Mereka berkata, ‘Kita bersama telah berhasil mencapainya.'”

Kepemimpinan yang melayani vs. gaya kepemimpinan lainnya

Gaya kepemimpinan yang dikemukakan oleh Greenleaf dalam esai ini dan dua esai berikutnya, “The Institution as Servant” (1972) dan “Trustees as Servants” (1975), menjungkirbalikkan struktur kekuasaan top-down yang ditemukan di banyak institusi. Ini sangat kontras dengan gaya kepemimpinan otoriter, yang mengharuskan para pemimpin memiliki kekuatan pengambilan keputusan total dan kontrol mutlak atas bawahan mereka.

Penekanan kepemimpinan yang melayani terhadap tanggung jawab atas kebutuhan dan keinginan orang lain mirip dengan kepemimpinan etis, yang menuntut para pemimpin untuk menunjukkan rasa hormat terhadap nilai-nilai dan martabat bawahan mereka. Pendekatan Greenleaf juga memasukkan unsur-unsur gaya kepemimpinan partisipatif, yang mengharuskan para pemimpin untuk melibatkan bawahan dalam menetapkan tujuan, membangun tim, dan memecahkan masalah tetapi tetap membuat pengambilan keputusan akhir di tangan mereka sendiri.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.