Kepemimpinan yang Melayani (5)

Berikut adalah lanjutan dari pembahasan tentang prinsip kepemimpinan yang melayani — serta bagaimana menerapkannya dalam keseharian yang akan meningkatkan kualitas kepemimpinan Anda.

Memprioritaskan Individu (Bukan Sekadar Apa/Bagaimana Pekerjaan Seseorang)

Ketika orang berinvestasi secara finansial, mereka menginginkan pengembalian. Ketika orang-orang diinvestasikan secara emosional, mereka ingin berkontribusi. Tidak ada nilai yang lebih besar dari sebuah tim yang ingin menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh semangat. Tim seperti itu terbentuk dari kepemimpinan yang mampu memahami dan mengekspresikan nilai individu dan kolektif tim tersebut.

Banyak pemimpin mengalami kesulitan bagaimana caranya mempertahankan ketegasan sekaligus menghormati tim sambil tetap mempertahankan otoritasnya. Para pemimpin yang kurang menghargai bawahan mereka — termasuk dengan tidak mempraktikkan prinsip-prinsip yang sebelumnya sudah kita bahas — berujung pada tim yang tidak puas, budaya negatif, dan pengerjaan di bawah standar. Namun, solusi mudah untuk dilema ini adalah dengan mengekspresikan nilai melalui rasa hormat, perhatian, dan dukungan sederhana.

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan sebagai pemimpin untuk menunjukkan penghargaan kepada tim Anda, Itu sesederhana kata-kata penegasan yang rutin Anda sampaikan, atau membantu menyelesaikan pekerjaan kecil maupun rutin ketika seorang anggota tim merasa kelebihan beban pekerjaan.

Hal-hal sederhana dan praktis seperti itu, yang menunjukkan penghargaan serta menunjukkan bahwa Anda juga menghargai kemanusiaan para staff, bukan semata-mata hanya mempedulikan kontribusi mereka kepada tim — bahwa bagi Anda, uang dan waktu tidak lebih berharga daripada kesejahteraan para staff. Kebaikan terhadap anggota tim menciptakan kepercayaan emosional pada Anda sebagai seorang pemimpin, yang menghasilkan keinginan mendalam untuk berkontribusi pada kesuksesan organisasi.

Sebagai contoh penerapan prinsip ini, sebuah bisnis jaringan kafe memastikan bahwa tiap karyawan yang bekerja di dalamnya diakui karena nilai kemanusiaannya, bukan hanya sebagai “sumber daya manusia.” Salah satu ekspresi yang paling terlihat dari mentalitas ini adalah dengan menyebut karyawan sebagai “mitra”, bukan karyawan. Dengan menggunakan istilah ini, memunculkan hak istimewa kepemilikan psikologis “mitra” atas perusahaan, dan didukung dengan kepemilikan aktual yang diberikan melalui program pembagian saham.

Program lain pemberian hak istimewa kepada karyawan adalah melalui kesempatan pengembangan personal di setiap tingkat perusahaan. Perusahaan bekerja sama dengan sebuah kampus untuk menyediakan beasiswa pendidikan bagi karyawan yang ingin melanjutkan pendidikan hingga jenjang kesarjanaan.

Perusahaan memahami bahwa dengan mengembangkan karyawannya, maka karyawan yang memutuskan untuk menjadi mitra jangka panjang akan lebih berkomitmen untuk organisasi dan siap mencapai keberhasilan. Sedang bagi yang beralih karier di luar organisasi akan membawa brand image positif seiring pertumbuhan perusahaan.

Bagaimana cara memprioritaskan individu

Tunjukkan penghargaan yang nyata untuk tim Anda — baik melalui perkataan maupun perbuatan

Memprioritaskan orang (daripada uang dan waktu)

Bersikap baiklah secara proaktif kepada tim Anda, dengan rutin menemukan cara mendorong dan mendukung mereka

bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.