Mengapa Empati Penting dan Cara Melatihnya (2)

Artikel ini merupakan kelanjutan dari bagian pertama yang membahas nilai penting kemampuan empati. Di bagian ini akan dibahas tentang caranya melatih kemampuan tersebut.

Cara Berlatih (kanjutan)Amati Sekitar dan Bertanya-tanya

Letakkan ponsel Anda! Daripada melihat-lihat Twitter, tiktok, instagram atau membaca artikel saat Anda berada di tempat umum, saat di ruang tunggu atau di cafe, lihatlah orang-orang di sekitar Anda dan bayangkan siapa mereka, apa yang mungkin mereka pikirkan dan rasakan, dan ke mana mereka menuju sekarang. Apakah mereka frustrasi? Senang? Berdendang? Melihat ponsel mereka? Apakah mereka tinggal di sini atau mereka dari luar kota? Apakah hari mereka menyenangkan? Cobalah untuk benar-benar bertanya-tanya dan peduli.

Kenali Musuh Anda

Mungkin istilah “musuh” terlalu berlebihan di sini, tetapi coba bayangkan saja orang-orang yang sedang berada di situasi pertentangan atau perselisihan menghadapi Anda yang mungkin sering terjadi di sepanjang hidup Anda. Mungkin di lingkungan kerja, Anda berselisih dengan rekan kerja mengenai bagaimana semestinya suatu proyek harus diselesaikan.Mungkin itu adalah anggota keluarga yang terus-menerus berselisih paham dengan Anda karena suatu alasan. Siapapun itu, Anda memiliki suatu asumsi bahwa mereka yang salah dan Anda yang benar. Anda bahkan cenderung mengambil sikap tidak setuju dengan mereka terlepas dari apa yang mereka sampaikan, karena Anda berada di sisi yang berlawanan dengan mereka.

Sekarang bayangkan seluruh situasi dari sudut pandang orang itu. Orang-orang itu mungkin tidak bermasksud jahat atau bodoh. Mereka bahkan mungkin tidak salah mengenai berbagai hal yang Anda tidak setujui. Sangat mungkin, masalahnya biasanya lebih pada perbedaan filosofis yang mendasar daripada tentang konflik spesifik yang terjadi.

Bagaimana perasaan orang-orang itu tentang tanggapan Anda saat tidak setuju dengan mereka? Ketakutan apa yang menyebabkan orang lain tegang dan sulit untuk diajak bernalar? Bagaimana bisa Anda malah memperburuk ketakutan itu, dan bukannya menenangkan mereka? Argumen valid apa yang dapat dibuat oleh mereka terhadap pandangan Anda dan cara Anda menangani situasi tersebut? Niat baik apa yangsebenarnya mereka miliki?

Apa motif positif di balik hasil yang Anda anggap sebagai sesuatu yang negatif? Apakah Anda sejalan dengan motif itu? Jika demikian, jangan-jangan motif itu lebih penting daripada jika harus terus berkonflik seperti ini?

Hanya dengan melakukan hal-hal seperti ini (mungkin beberapa kali dengan subjek yang sama) dapat sangat meredakan frustrasi dan kecemasan Anda ketika berselisih paham dengan seseorang. Ini mungkin terdengar mudah, tetapi melakukannya sangat berbeda dengan memahami cara kerjanya.

Libatkan Pihak Lain

Sulit untuk memihak orang lain, apalagi “musuh” Anda sendiri, seperti yang dijelaskan di atas. Ini membutuhkan perspektif yang harus dipaksakan, yang membutuhkan banyak usaha ketika Anda sedang berada dalam kondisi tertekan dan bergelut dengan emosi Anda sendiri.

Jadi untuk membuatnya lebih mudah, cobalah mencari orang lain yang sebenarnya. Kita semua memiliki teman dan orang terkasih yang mengeluh kepada kita tentang bagaimana mereka diperlakukan oleh orang lain. Sudah menjadi sifat manusia untuk mengeluh dan itu adalah tugas orang yang dicintai untuk mendengarkan dan bersimpati. Asumsinya adalah bahwa pendengar berada di pihak pengadu. Teman yang suportif atau orang yang dicintai hampir selalu, secara naluriah, berpihak kepada kita.

Cobalah berlatih (secara internal) mengambil sudut pandang yang berlawanan. Jangan langsung bereaksi begitu saja. Mulailah dari sisi yang lain dan renungkan kembali.

Walau ini sudah bisa dipahami, itu tidak membuat orang bersedia melatih empatinya. Silahkan Anda coba, walau untuk sementara waktu, dan semoga dapat memperbaiki kehidupan Anda dan kehidupan orang-orang di sekitar Anda meskipun hanya sedikit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.