Mengkritisi Budaya Pengultusan Pemimpin di Era Modern 1
Di berbagai ruang—mulai dari organisasi korporat, komunitas, hingga lingkup negara—sering kali muncul fenomena di mana seorang pemimpin ditempatkan pada posisi yang hampir sempurna. Ia dianggap “selalu benar”, kata-katanya dianggap sabda, dan keputusannya tak boleh diganggu gugat. Ironisnya, bahkan ketika bukti kuat seperti korupsi atau pelanggaran moral terungkap, tak jarang kita saksikan para pengikutnya melakukan penyangkalan membabi buta, mempertahankan citra sang figur seolah tak bernoda. Perilaku ini menandai batas yang kabur antara menghormati pemimpin dengan mengultuskannya. Menghormati didasari rasa respek atas kontribusi dan integritas, sementara mengultuskan adalah bentuk idealisasi buta yang mengabaikan sifat manusiawi. Dampak awal dari budaya ini sering kali luput dari perhatian: kritik dan masukan, yang seharusnya menjadi oksigen bagi pertumbuhan organisasi, justru dianggap sebagai ancaman dan pembangkangan. Pada titik inilah organisasi mulai berjalan di atas es yang rapuh.
Asal-Usul Budaya Pengultusan Pemimpin
Budaya mengultuskan pemimpin tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ia berakar dari faktor psikologis dan struktural yang saling menguatkan. Secara psikologis, manusia sering kali memiliki kebutuhan akan figur “penyelamat” atau sosok panutan yang dapat memberikan kepastian di tengah ketidakpastian. Kebutuhan ini, ketika dieksploitasi atau tidak dikelola, dapat dengan mudah berubah menjadi ketergantungan dan pemujaan. Di sisi struktural, hierarki yang kaku, warisan budaya feodal yang memandang atasan sebagai “ndoro”, serta sistem komunikasi satu arah yang hanya dari atas ke bawah menciptakan jarak dan kesan superioritas. Media internal, simbol-simbol kekuasaan seperti jabatan dan fasilitas eksklusif, serta ritus-ritus organisasi turut membangun citra pemimpin sebagai sosok “tak tersentuh” dan berada di menara gading.
Mitos Pemimpin Infallible (Tidak Bisa Salah)
Mengapa narasi “pemimpin selalu tahu yang terbaik” begitu meyakinkan dan bertahan lama? Jawabannya terletak pada bias kognitif yang bekerja di bawah sadar. Halo effect membuat satu kualitas positif pemimpin (seperti karisma atau kesuksesan masa lalu) melumuri seluruh penilaian terhadap dirinya, sehingga kelemahan dan kesalahan menjadi terabaikan. Sementara itu, authority bias membuat orang cenderung mengikuti dan mempercayai otoritas tanpa berpikir kritis. Mitos tentang pemimpin yang tidak pernah salah ini berbahaya karena ia melumpuhkan sistem pengujian ide. Ketika setiap keputusan dianggap final hanya karena berasal dari sang pemimpin, organisasi kehilangan mekanisme koreksi diri dan menjadi rentan terhadap kesalahan strategis yang fatal.
Dampak Negatif Pengultusan terhadap Organisasi
Efek dari budaya pengultusan bersifat merusak dan sistemik. Pertama, budaya kritik dan diskusi sehat menjadi mati. Ruang untuk bertanya dan mempertanyakan tertutup karena dianggap tidak sopan atau tidak loyal. Kedua, kesalahan kecil yang seharusnya bisa diperbaiki segera dibiarkan membesar, seperti sel kanker yang tidak terdeteksi, hingga akhirnya menjadi krisis yang menggerogoti organisasi. Ketiga, individu-individu kritis dan berbakat, yang justru dibutuhkan untuk kemajuan, akan memilih untuk diam (silenced) atau meninggalkan organisasi (exit), sehingga yang tersisa hanya orang-orang yang patuh secara pasif. Terakhir, yang terbentuk adalah loyalitas palsu—kepatuhan yang lahir dari ketakutan atau kepentingan, bukan dari keterikatan nilai dan kepercayaan yang tulus. Loyalitas seperti ini rapuh dan akan runtuh saat sang figur terjatuh.
Melihat berbagai dampak negatif dari budaya pengultusan, jelas bahwa organisasi tidak bisa terus membiarkan pola ini berakar. Namun, pembahasan mengenai bagaimana cara membongkar mitos pemimpin sempurna dan membangun budaya yang lebih sehat akan dilanjutkan pada bagian berikutnya. Artikel ini bersambung untuk mengupas langkah-langkah praktis serta peran penting kritik dalam menjaga ketahanan organisasi.