HR Strategic

Belajar Tanpa Diajari: Menggali Potensi Adaptasi Generasi Baru Melalui Osmosis

Dalam suatu episod podcast, Azrul Ananda, pemilik dan pemimpin sebuah kompetisi bola basket pelajar berskala nasional, berbagi sebuah filosofi menarik yang mendasari perjalanan organisasinya. Dari sebuah inisiatif berskala lokal yang dikelola tim kecil, kompetisi tersebut telah bertransformasi menjadi sebuah jaringan nasional yang masif. Kunci dari ekspansi dan kesuksesan ini, menurut Azrul, bukan terletak pada manual atau instruksi yang rigit, melainkan pada sebuah prinsip budaya organisasi yang ia sebut sebagai “tidak mengajari, tetapi menularkan.” Prinsip ini menjadi landasan bagi terciptanya lingkungan di mana pembelajaran terjadi secara organik, bagaikan proses osmosis, menular dari satu individu ke individu lainnya melalui observasi, praktik, dan penyerapan nilai secara alamiah.

Secara konvensional, pendekatan pelatihan dan pengembangan dalam banyak organisasi—termasuk di dunia pendidikan dan korporat—sering kali mengandalkan metode yang terstruktur dan hierarkis. Pola ini biasanya ditandai dengan instruksi langsung, modul pelatihan formal, serta Standard Operating Procedure (SOP) yang kaku. Junior atau peserta didik ditempatkan dalam sebuah “kotak” aturan yang jelas: inilah yang harus dilakukan, inilah langkah-langkahnya, dan inilah hasil yang diharapkan. Metode ini, meski terlihat efisien dan terukur, menciptakan sebuah sistem di mana transfer pengetahuan berjalan searah dan sangat bergantung pada keberadaan “pengajar”.

Namun, pendekatan konvensional ini menuai sejumlah masalah signifikan. Ketika hanya diajarkan pada “apa” yang harus dilakukan, tanpa memahami “mengapa” dan “bagaimana” jika menghadapi variasi di luar modul, maka yang terbentuk adalah generasi yang fasih dalam menjalankan perintah, tetapi gamang dalam menghadapi ketidakpastian. Kemampuan adaptasi mereka menjadi lemah karena tidak terbiasa berpikir secara kontekstual dan improvisatif. Mereka seperti pemain yang hanya hapal skenario latihan, namun kewalahan ketika permainan berlangsung dinamis dan tidak terduga. Pada akhirnya, organisasi menghasilkan individu-individu yang terlatih, tetapi tidak necessarily tangguh.

Oleh karena itu, muncullah sebuah kebutuhan mendesak akan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel dan kontekstual. Dunia yang berubah dengan cepat menuntut bukan hanya eksekutor tugas, tetapi juga pemecah masalah yang lincah dan inovatif. Filosofi “menularkan” ala Azrul Ananda menjawab tantangan ini. Ia menawarkan sebuah paradigma di mana pembelajaran bukanlah tentang menjejalkan informasi, melainkan tentang menciptakan ekosistem yang memungkinkan nilai-nilai, semangat, dan cara berpikir untuk diserap secara mandiri. Inilah esensi dari belajar melalui osmosis: sebuah proses penyerapan pengetahuan dan keterampilan secara halus dan mendalam, yang pada akhirnya melahirkan generasi baru dengan daya adaptasi yang kuat.

Apa itu pendekatan “Menularkan, Bukan Mengajari”?

Jargon “Tidak Mengajari, Tetapi Menularkan” atau yang dapat kita sebut sebagai Pendekatan Organik, bukan sekadar permainan kata. Secara esensial, pendekatan ini merepresentasikan pergeseran paradigma dari model pengajaran yang instruksional dan satu arah menuju model penyebaran kompetensi yang imersif dan kontekstual. Jika “mengajari” berfokus pada pemberian petunjuk eksplisit, maka “menularkan” berpusat pada penciptaan lingkungan di mana pengetahuan dan nilai-nilai diserap secara alami, bagai sepon menyerap air.

Pada praktiknya, pendekatan ini didefinisikan sebagai sebuah metode di mana peran senior bukanlah sebagai pemberi instruksi formal, melainkan sebagai mitra yang mengajak junior untuk bekerja bersama dalam menyelesaikan masalah nyata. Hubungan yang terbentuk bukan hubungan guru-murdi dalam kelas, melainkan hubungan kolegial antara praktisi yang lebih berpengalaman dengan yang baru bergabung. Dalam dinamika ini, junior didorong untuk terjun langsung, bertanya, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan dalam bingkai pengawasan dan bimbingan yang tidak mengekang.

Mekanisme utama dari pendekatan ini berlangsung melalui observasi, imitasi, dan internalisasi. Junior belajar dengan cara mengamati secara saksama bagaimana seorang senior memecahkan masalah, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan menghadapi tekanan. Mereka tidak hanya mencatat langkah-langkah teknis (prosedur), tetapi lebih jauh menyerap cara berpikir (mindset), logika, etos kerja, dan intuisi yang mendasari setiap tindakan. Proses ini menuntut keaktifan junior untuk “membaca” situasi dan konteks, sehingga yang terserap bukan hanya ilmu, tetapi juga kebijaksanaan dalam menerapkannya.

Sebagai penutup, pendekatan “menularkan, bukan mengajari” membuka ruang baru bagi organisasi untuk membangun generasi yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif, gesit, dan peka terhadap konteks. Dalam dunia yang berubah cepat, model pembelajaran yang organik dan alami seperti ini mampu memupuk pola pikir yang lebih mandiri dan berdaya tahan. Namun, tentu masih ada lapisan yang lebih dalam di balik metode ini—yakni filosofi yang membentuk cara pandang, nilai-nilai, serta fondasi budaya yang membuat pendekatan ini benar-benar bekerja. Pada artikel berikutnya, kita akan menggali lebih jauh filosofi tersebut: apa yang sebenarnya menjadi roh dari metode ini, dan bagaimana ia dapat membentuk kultur organisasi yang kuat dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *