Manajemen Karir

Jangan Menunggu Minat: Mengapa Tindakan Adalah Guru Terbaik dalam Karier

Banyak dari kita terjebak dalam mitos besar tentang karier: bahwa kita harus menemukan “passion” atau minat yang membara terlebih dahulu sebelum mulai melangkah. Kita menunggu datangnya pencerahan atau bakat alami yang tiba-tiba muncul dari langit. Namun, kenyataan di lapangan sering kali berkata sebaliknya. Minat bukanlah bahan bakar yang menyalakan mesin; minat adalah api yang muncul setelah mesin itu bekerja cukup lama.

Ada dua jalur utama bagaimana seseorang akhirnya menguasai sebuah keahlian baru, dan keduanya tidak dimulai dari minat yang sudah matang.

Jalur pertama adalah belajar berbasis masalah (Problem-Based Learning). Bayangkan seorang profesional yang mengawali kariernya di satu bidang yang ia sukai. Di tengah perjalanan, ia membentur tembok besar berupa masalah teknis yang belum pernah ia hadapi. Mau tidak mau, ia harus belajar hal baru yang sebelumnya tidak ia lirik sama sekali demi menyelesaikan masalah tersebut. Dalam proses “terpaksa” itulah, ia justru menemukan keasyikan baru dan mengembangkan minat yang lebih dalam di bidang yang baru ia temukan. Di sini, masalah bertindak sebagai akselerator belajar yang sangat kuat.

Jalur kedua adalah melalui peluang tak terduga (Planned Happenstance). Kisahnya mungkin terasa lebih ringan: seseorang yang awalnya awam tentang desain grafis, melihat temannya bekerja, lalu muncul sedikit rasa penasaran. Ketika seorang teman mengajaknya mengerjakan proyek sederhana, ia memberanikan diri mencoba meski dengan kemampuan seadanya. Keberhasilan kecil itu meningkatkan rasa percaya dirinya (Self-Efficacy). Proyek-proyek selanjutnya berdatangan, dan tanpa ia sadari, ia telah bertransformasi menjadi seorang desainer grafis.

Kedua kisah ini mengonfirmasi satu teori ilmiah yang penting: kompetensi melahirkan gairah. Berdasarkan Self-Determination Theory, manusia akan secara alami menyukai aktivitas di mana mereka merasa ahli atau kompeten. Kita tidak mencintai desain atau pengodean hanya karena “takdir”, tetapi karena kita mulai merasa bisa menguasainya.

Oleh karena itu, jangan takut untuk terjun ke dalam sesuatu yang baru, meskipun Anda merasa belum punya minat atau kemampuan di sana. Jika Anda menghadapi masalah di kantor, lihatlah itu sebagai “kurikulum gratis” untuk mempelajari skill baru. Jika seorang teman menawarkan proyek kolaborasi yang asing bagi Anda, ambillah sebagai pintu gerbang menuju penemuan potensi terpendam.

Beranilah untuk menjadi “pemula yang benar-benar seadanya”. Tidak ada orang yang langsung menjadi ahli dalam semalam. Keberhasilan-keberhasilan kecil dari tindakan nyata jauh lebih berharga daripada perencanaan yang sempurna namun tidak pernah dieksekusi. Pada akhirnya, karier yang cemerlang bukan dibangun oleh mereka yang paling tahu minatnya sejak awal, melainkan oleh mereka yang paling berani mencoba dan belajar dari setiap tantangan yang ada di depan mata.

Mulai saja dulu, karena minat akan menyusul di belakang tindakan Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *