Kepedulian, Bukan Stres, yang Menggerakkan Kinerja
Dalam dunia kerja yang serba cepat, banyak orang, termasuk para manajer, kerap menyamakan tekanan dengan motivasi. Mereka percaya bahwa dengan menciptakan deadline ketat, target yang menegangkan, atau atmosfer penuh kecemasan, diri sendiri dan tim akan terdorong untuk berprestasi. Namun, pemahaman ini keliru. Stres dan kepedulian (caring) adalah dua kutub yang berbeda dalam konteks motivasi dan kinerja, dengan dampak yang bertolak belakang.
Memahami Dua Kekuatan yang Berseberangan
Stres, dalam esensinya, adalah reaksi tegang yang timbul dari persepsi akan ancaman atau tuntutan yang melebihi kemampuan. Natalie Goldberg, seorang guru kreativitas, menggambarkan stres sebagai “disconnection from the Earth” (terputus dari bumi) dan “forgetting of the breath” (melupakan napas). Dalam keadaan ini, seseorang berada dalam mode bertahan hidup yang tidak sadar, menganggap segala hal sebagai darurat. Akibatnya, kemampuan kognitif seperti fokus, memori, dan kreativitas justru menurun. Stres mempersempit pandangan dan membuat individu menjadi reaktif, cenderung membuat kesalahan, serta kesulitan mengakses kecerdasan dan keterampilan mereka secara optimal.
Sebaliknya, kepedulian adalah keadaan sadar yang berakar pada keterlibatan dan komitmen. Kepedulian bukan berarti tidak serius atau tanpa target. Ia adalah tentang fokus yang dalam, relaksasi yang penuh kesadaran, dan kemampuan untuk memanfaatkan seluruh sumber daya internal secara efisien untuk mencapai tujuan. Ibarat “lazy dynamite” (dinamit yang malas), kekuatan besar dari kepedulian baru meledak ketika seseorang dalam kondisi tenang, terkonsentrasi, dan terhubung dengan apa yang dilakukannya. Kepedulian memungkinkan aliran energi positif, ketekunan, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan.
Dampaknya pada Kinerja: Sebuah Contoh Kasus
Bayangkan dua tim yang diberi proyek kompleks dengan deadline sama. Manajer Tim A terus-menerus mengingatkan konsekuensi kegagalan, mengirim email tegang di luar jam kerja, dan menciptakan suasana “genting”. Hasilnya? Anggota tim bekerja dengan cemas, komunikasi buruk karena takut disalahkan, dan banyak energi terkuras untuk mengelola kecemasan daripada menyelesaikan masalah. Kualitas kerja pun sering kali terpaksa dikorbankan untuk sekadar mengejar waktu.
Sementara itu, pemimpin Tim B memulai dengan menunjukkan kepedulian terhadap tujuan proyek dan kesejahteraan tim. Dia mendorong diskusi terbuka, memberikan ruang untuk bertanya, dan fokus pada penyediaan sumber daya yang dibutuhkan. Tekanan deadline diakui, tetapi tidak dijadikan momok. Tim ini bekerja dengan kesadaran penuh pada tujuan, merasa memiliki tanggung jawab bersama, dan mampu berpikir jernih untuk berinovasi. Meski juga bekerja keras, energi mereka produktif dan terarah. Kinerja mereka cenderung lebih tinggi dan berkelanjutan.
Beralih dari Stres menuju Kepedulian
Kunci transformasi dari budaya stres ke budaya kepedulian terletak pada kesadaran dan niat. Pertama, kita perlu berhenti mengglorifikasi kesibukan dan ketegangan sebagai simbol produktivitas. Kedua, fokus harus dialihkan dari sekadar “menyelesaikan” menjadi “menyelesaikan dengan baik dan bermakna”. Ini membutuhkan investasi perhatian penuh pada proses, bukan hanya hasil. Melatih mindfulness, mengambil napas sadar saat tekanan datang, dan mengingatkan diri tentang tujuan yang lebih besar adalah langkah praktis. Dengan pendekatan yang relaks namun penuh perhatian, seseorang atau tim bukan hanya menjadi lebih efektif, tetapi juga menemukan lebih banyak kepuasan dan keberlanjutan dalam mencapai kesuksesan.
Pada akhirnya, kesuksesan sejati dibangun bukan di atas fondasi kecemasan yang rapuh, tetapi di atas batu fondasi kepedulian yang kokoh. Kepedulianlah yang mengasah fokus, menguatkan ketahanan, dan menggerakkan kinerja optimal secara manusiawi dan berkelanjutan.