Special

Memahami Pemilihan Media: Eksplorasi Teori Pengharapan Nilai

Dalam dunia komunikasi massa yang begitu dinamis, pertanyaan mendasar seperti “Mengapa seseorang lebih memilih menonton video di TikTok daripada menonton berita di televisi?” atau “Apa yang mendasari kesetiaan seseorang pada platform media sosial tertentu?” membutuhkan kerangka teoritis yang mampu menjawabnya. Salah satu teori yang relevan adalah Teori Pengharapan Nilai (Expectancy-Value Theory), yang merupakan pengembangan dari Teori Uses and Gratifications.

Apa Itu Teori Pengharapan Nilai?

Secara mendasar, Teori Pengharapan Nilai menjelaskan bahwa keputusan dan sikap individu dibentuk oleh dua faktor kunci: keyakinan tentang kemungkinan hasil suatu tindakan dan nilai yang mereka atribusikan pada hasil tersebut. Dalam konteks komunikasi, teori ini tidak hanya melihat bagaimana orang menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga bagaimana mereka mengevaluasi media tersebut. Setiap kali kita memilih untuk membuka aplikasi tertentu, kita secara tidak sadar melakukan pertimbangan berdasarkan harapan akan manfaat yang didapat dan seberapa penting manfaat itu bagi kita.

Teori ini mulai berkembang pada dekade 1970-an dengan kontribusi penting dari para ahli seperti Martin Fishbein dan Icek Ajzen. Mereka memperkaya pemahaman kita tentang proses kognitif di balik pembentukan sikap dan perilaku.

Pengembangan dari Teori Uses and Gratifications

Sebagai turunan dari Teori Uses and Gratifications, Teori Pengharapan Nilai mengambil langkah lebih jauh. Jika pendahulunya berfokus pada “kebutuhan” apa yang ingin dipenuhi melalui media, teori ini menambahkan lapisan analisis tentang “evaluasi”. Individu tidak sekadar pasif memenuhi kebutuhan; mereka aktif menilai apakah media yang mereka gunakan dapat memenuhi harapan mereka dan apakah hasil yang diperoleh sesuai dengan nilai-nilai pribadi mereka. Misalnya, sikap positif seseorang terhadap platform berita online terbentuk karena mereka yakin (harapan) akan mendapatkan informasi yang cepat dan mereka menilai (nilai) kecepatan informasi sebagai hal yang sangat penting.

Kritik dan Tantangan Penerapan

Seperti banyak teori, Teori Pengharapan Nilai tidak luput dari kritik. Kritik utama menyoroti asumsinya yang dianggap terlalu rasional, seolah-olah manusia selalu membuat keputusan berdasarkan pertimbangan logis semata. Padahal, faktor emosi, kebiasaan, atau pengaruh lingkungan sosial sering kali memegang peran lebih besar. Selain itu, mengukur “nilai” yang bersifat sangat subjektif dari setiap individu merupakan tantangan metodologis yang tidak mudah. Teori ini juga mungkin kurang mampu menjelaskan perilaku media di budaya kolektivis, dimana norma sosial dan tekanan kelompok bisa lebih dominan daripada pertimbangan pribadi.

Relevansi dalam Konteks Indonesia

Di Indonesia, khususnya, teori ini menawarkan lensa yang berguna untuk memahami pola konsumsi media yang beragam. Masyarakat tidak hanya memilih antara media tradisional seperti televisi dan radio dengan media digital, tetapi juga mengevaluasinya berdasarkan harapan dan nilai yang dipengaruhi budaya, pendidikan, dan norma sosial. Sebagai contoh, dalam sebuah kampanye kesehatan masyarakat, efektivitas pesan sangat bergantung pada pemahaman terhadap harapan audiens. Apakah mereka mengharapkan informasi yang mudah dipahami? Dan seberapa tinggi mereka menilai manfaat dari perilaku sehat yang disarankan? Dengan memahami dua komponen ini, pesan kampanye dapat dirancang menjadi lebih tepat sasaran dan persuasif.

Kesimpulan

Teori Pengharapan Nilai memberikan kerangka kerja yang berharga untuk menggali lebih dalam motivasi di balik pilihan media kita. Dengan menitikberatkan pada hubungan dinamis antara harapan (expectancy) dan nilai (value), teori ini membantu peneliti dan praktisi komunikasi untuk memahami tidak hanya “apa” yang dikonsumsi masyarakat, tetapi “mengapa” mereka mengonsumsinya. Meskipun memiliki keterbatasan, relevansi teori ini dalam menganalisis perilaku di era digital tetap kuat, menjadikannya alat analisis yang terus digunakan hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *