Saat ini banyak orang menemukan inspirasi dan kepuasan dalam pekerjaan mereka dengan mengusung spiritualitas di tempat kerja. Menurut Majalah Fortune, 78 persen orang Amerika merasa perlu mengalami pertumbuhan spiritual dan setengah dari mereka mengatakan bahwa mereka secara terbuka membicarakan masalah spiritual di tempat kerja.

Jurnal Business Intelligence (2009) melaporkan bahwa 85 persen peserta menjawab ya sebagai jawaban atas pertanyaan apakah spiritualitas pemimpin mempengaruhi organisasi mereka atau tidak. Pemeluk agama tertentu mencari jawaban atas pertanyaan spiritual mendasar, tidak hanya di gereja atau di ruang suci tapi juga di tempat kerja: Apa itu “mencari nafkah yang halal”? Apa “nilai spiritual” yang harus didukung oleh majikan? Dapatkah saya membawa nilai-nilai dan wawasan spiritual saya untuk bekerja atau haruskah saya menyimpannya untuk diri saya sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu mengetahui bagaimana pendekatan spiritual dipraktekkan pada lingkungan kerja saat ini, dan secara umum kita dapat mengulas topik tersebut dalam tiga kategori:

Pendekatan Misi Tuhan

Dalam pendekatan ini organisasi mendedikasikan waktu dan sumber daya untuk membawa spiritualitas yang berpusat pada Tuhan ke tempat kerja. Tempat kerja merupakan tempat untuk meningkatkan dan menyebarkan keimanan.

Organisasi secara aktif melakukan pengajian, membantu orang-orang yang kurang mampu, membangun sekolah agama, dan mempromosikan nilai-nilai agama dalam bisnis. Organisasi yang berpusat pada Tuhan lainnya mensponsori drive amal, pertemuan doa karyawan dan pelajaran Alkitab.

Pendekatan Etis

Pendekatan etis terhadap spiritualitas berpusat pada nilai-nilai, mengeksplorasi hal-hal yang mendorong praktik bisnis saat ini, seperti efisiensi, Kompetisi antar karyawan dan kekayaan materi, serta menumbuhkan hal-hal yang sering diabaikan, seperti kejujuran, keadilan, rasa hormat dan kasih sayang dalam duniia kerja.

Pendekatan etis juga berfokus pada pemupukan nilai-nilai yang menginspirasi kita untuk berakhlak mulia dalam pekerjaan dan profesi kita. Penerapan pendekatan etis dilakukan dengan inisiatif untk menghadapi tantangan etis seperti keadilan, perlindungan hak asasi manusia dan pelestarian lingkungan.

Pendekatan Eksistensial

Pendekatan ke pusat spiritualitas terdalam di tempat kerja dengan cara menemukan makna dalam pekerjaan dan karir kita. Pekerjaan bukan suatu dunia lain yang membelah kehidupan karyawan melainkan suatu aktifitas yang terintegrasi dengan kehidupan secara menyeluruh yang dialami oleh karyawan.

Dalam pendekatan ini, karyawan dan organisasi didorong untuk mengeksplorasi dan menemukan hal-hal yang berarti dalam pekerjaannya hingga seseorang merasakan bahwa bekerja adalah ibadah, yang merupakan pencapaian dari tujuan dan makna hidup.

Mengusung spiritualitas di tempat kerja, dengan demikian, akan menjadi suatu jalan bagi karyawan dan organisasi untuk dapat menerapkan nilai-nilai mulia, seperti kejujuran, integritas, anti-korupsi, keadilan, keseimbangan, pengabdian, dan penghargaan terhadap orang lain.