Pemberian gaji oleh perusahaan kepada karyawan seringkali tidak didasarkan atas filosofi yang tepat. Kondisi ini berdampak pada pengeluaran perusahaan untuk gaji karyawan yang tidak berkorelasi dengan produktifitas karyawan. Di sisi lain, anggaran gaji pegawai tiap tahun selalu meningkat, minimal karena inflasi.

Merubah Paradigma Pemberian Gaji

Dalam prakteknya beberapa kebijakan yang diambil oleh perusahaan dalam pemberian gaji perlu dilakukan perubahan paradigma.

a. Dari kenaikan gaji untuk seluruh karyawan menjadi kenaikan gaji hanya untuk karyawan tertentu yang berkinerja baik

Secara lugas, tidak perlu ada kenaikan untuk pegawai berkinerja buruk, sepanjang gaji yang diterima saat ini masih memenuhi ketentuan normative (UMK/UMP). Kenaikan gaji yang diberlakukan untuk seluruh pegawai, justru akan mendemotivasi karyawan yang berkinerja baik.

b. Dari “santa claus bonuss”, memberi bonus untuk semua karyawan, menjadi bonus hanya untuk karyawan yang berkontribusi tinggi untuk perusahaan.

Beberapa perusahaan memberlakukan sistem bonus berdasarkan prosentasi laba perusahaan. Dari prosentase tersebut, dibagi secara proporsional berdasarkan tingkat jabatan (grade). Karyawan yang memiliki grade jabatan yang sama akan menerima besaran bonus yang sama.

Perusahaan seringkali tidak mau repot untuk membuat aturan yang mengatur pemberian bonus yang lebih adil. Hal ini berakibat pada merosotnya motivasi karyawan yang sebelumnya berkinerja baik.

c. Dari garansi kenaikan gaji per periode tertentu berdasarkan senioritas menjadi garansi kenaikan gaji apabila mencapai produktifitas tertentu.

Beberapa perusahaan memberlakukan standart ganda menyangkut kenaikan gaji. Pertama, gaji karyawan naik apabila menduduki posisi yang lebih tinggi. Kedua, gaji naik apabila masa kerja bertambah dalam periode tertentu, misalnya tiap 2 tahun. Kondisi ini tidak melecut semangat karyawan untuk berusaha keras mencapai target kinerja tertentu karena akan naik pada waktunya.

d. Dari single factor menjadi multi factor dalam pemberian gaji.

Dalam single factor pemberian gaji, perusahaan memberikan gaji berdasarkan pada satu komponen saja. Perusahan tidak membagi menjadi beberapa komponen berdasarkan kepentingan. Misalnya, hanya diberikan gaji pokok berdasarkan UMK/UMP. Praktek pemberian gaji seperti ini tidak membedakan gaji berdasarkan kinerja taua produktifitas, yang berdampak motivasi kerja karyawan yang kurang bergairah. Setidaknya ada 2 komponen besar yang harus dibedakan. Pertama, komponen gai yang bersifat fixed, dikenal sebagai upah pokok dan tunjangan tetap yang besarannya tetap setiap bulan. Kedua, komponen gaji yang bersifat variable yang dapat berubah-ubah besarannya berdasarkan kehadiran, produktifitas, kinerja dan aspek lainnya.

Penguatan pada sisi filosofi pemberian gaji ini menjadi sangat penting, karena dari pemahaman yang tepat mengenai pemberian gaji ini struktur dan skala upah disusun sehingga prinsip-prinsip pemberian gaji yang adil dan transparan dapat terwujud. Ujung-ujungnya, kinerja karyawan diharapkan akan melesat seiring dengan penerapan pemberian gaji lebih adil sesuai dengan kontribusi karyawan pada perusahaan.