Soft Skills dan Kecerdasan Buatan

Perkembangan teknologi telah lama menjadi perhatian para pekerja di era ekonomi yang semakin maju ini. Saat penerapan otomatisasi semakin meluas, suatu yang lumrah bila muncul ketakutan bahwa mesin, komputer, dan proses berbasis teknologi dapat membuat beberapa jenis skill tenaga kerja manusia tidak lagi diperlukan.

Kekhawatiran ini bukannya tanpa alasan. Saat bisnis beradaptasi menggunakan teknologi baru demi membantu melalui krisis COVID-19, sebagian dari kita merasakan kecemasan bahwa teknologi dapat menggantikan peran kita.

Kecerdasan Buatan Memiliki Potensi Memengaruhi Tingkat kebutuhan Beberapa Keterampilan Tertentu

Sebuah artikel di Forbes mencatat bahwa jutaan jenis pekerjaan telah hilang akibat otomatisasi pada abad ke-21, bahkan ketika karyawan mampu mempertahankan suatu pekerjaan, mereka sering kali mendapati upah mereka mengalami penurunan drastis.

Ketika kita memikirkan hilangnya pekerjaan karena otomatisasi, kita sering membayangkan jenis pekerjaan manual — sebuah tim pekerja pabrik diganti dengan robot, buruh tani diganti dengan mesin, dan sejenisnya. Tapi ada banyak contoh lain juga, termasuk resepsionis, penjaga loket, penerima pengaduan dan kasir.

Bahkan ada uji coba yang menarik baru-baru ini, yaitu ahli radiologi yang sudah sangat terdidik dan terlatih, kemampuannya disaingi oleh kecerdasan buatan (AI) Google saat mendeteksi kanker payudara.

Saat industri mulai membawa pekerjanya kembali ke dunia kerja setelah pandemi, mereka akan mencari cara teraman untuk mengembalikan pekerjaan dan pelanggan mereka, dapatkah robot dan teknologi menggantikan peran pekerja itu?

Soft Skills Mungkin Merupakan Pengecualian

Terlepas dari potensi terjadinya penggantian itu, setidaknya saat ini, robot kekurangan banyak karakteristik yang membentuk satu manusia — 

Sekumpulan karakteristik yang sering kali sangat dihargai oleh dunia industri yang hanya dimiliki seorang manusia. Secara umum, kita dapat menyebut ini sebagai “soft skill” —hal-hal seperti resolusi konflik, manajemen waktu, membangun jaringan, dan sejenisnya.

Sebuah laporan yang dirilis pada tahun 2019 menemukan fakta bahwa sebagian besar industri mencari keterampilan semacam itu dan bahkan memberi nilai lebih daripada keterampilan teknis. Dan, tentu saja, keterampilan teknis itulah yang paling rentan untuk disaingi oleh komputer dan robot.

Mari kita simak beberapa contoh berikut:

Kita mungkin bisa menggunakan program komputer untuk membuat kalkulasi teknik yang sangat detail dan canggih, tetapi dapatkah program tersebut mengelola hubungan dengan vendor bahan konstruksi yang diperlukan dalam proyek teknik?

Sebuah aplikasi akuntansi mungkin bisa mendeteksi adanya inefisiensi keuangan, tetapi dapatkah komputer memunculkan inisiatif pengurangan biaya dalam suatu departemen?

Program kecerdasan buatan dapat menghasilkan daftar konten tentang cuaca, pasar saham, dan olahraga, tetapi dapatkah program tersebut menghasilkan konten memikat dan menarik yang memberikan nuansa lebih dari sekadar informasi biasa?

Kemajuan mesin yang menjadi lebih canggih dan kemunculan AI tidak bisa dihindari. Daripada takut kehilangan pekerjaan karena otomatisasi, pekerja harus fokus pada peningkatan soft skill yang membedakan manusia dari mesin atau algoritme — jenis keterampilan yang dibutuhkan industri, sesuatu yang membuat karyawan dipekerjakan dan dimpromosikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.