Siklus manajemen kinerja kedua adalah pemantauan kinerja atau monitoring. Memantau kinerja sehari-hari tidak berarti mengawasi secara detil tiap hal yang dikerjakan oleh karyawan. Manajer tidak harus mengelola hal-hal teknis yang perlu dilakukan karyawan, tetapi lebih fokus pada hasil yang dicapai melalui perilaku individu dan dinamika tim yang mempengaruhi lingkungan kerja.

Selama fase ini, karyawan dan manajer harus bertemu secara teratur untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

  1. Menilai kemajuan dalam pencapaian sasaran kinerja. Mendiskusikan apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum tercapai.
  2. Mengidentifikasi hambatan karyawan dalam mencapai target atau sasaran kinerja serta mendiskusikan dalam sesi pembinaan upaya apa yang perlu dilakukan untuk mengatasinya kendala-kendala yang dihadapi.
  3. Memberikan umpan balik tentang kemajuan-kemajuan yang telah dicapai karyawan dikaitkan dengan tujuan dan sasaran kinerja yang telah ditentukan sebelumnya. Termasuk di dalamnya memberikan masukan untuk tercapainya sasaran kinerja.
  4. Mengidentifikasi perubahan rencana kerja yang mungkin saja diperlukan sebagai akibat dari perubahan prioritas organisasi. Selain itu, perubahan rencana kerja juga dimungkinkan apabila karyawan tersebut mengalami perubahan jabatan dan tanggung jawab baru sehingga diperlukan diskusi aktivitas-aktivitas apa saja yang berubah termasuk target/sasaran kinerjanya.
  5. Menentukan apakah dukungan ekstra diperlukan dari manajer atau orang lain untuk membantu karyawan dalam mencapai tujuannya. Sering ditemui banyak faktor yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh karyawan, bisa terkait dengan keterbatasan networking, fasilitas,  dan wawasan karyawan sehingga diperlukan dukungan dari atasan atau orang lain.

Continous Coaching (Pembinaan Secara Terus Menerus)

Dalam manajemen kinerja, pembinaan (coaching) dilakukan secara intensif dan terus menerus sepanjang tahun untuk mengatasi masalah dan isu-isu terkait dengan kinerja untuk memastikan kontribusi positif karyawan bagi organisasi.

Beberapa hal penting yang perlu diketahui dalam pemberian coaching sebagai berikut:

  1. Coaching berarti memberikan arahan, bimbingan, dan dukungan yang diperlukan karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan. Sebagai seorang coach (pelatih), manajer perlu mengenali kekuatan dan kelemahan karyawan, dan bersama-sama dengan karyawan mengidentifikasi peluang dan metode untuk memaksimalkan kekuatan dan meningkatkan kompetensi yang kurang.
  2. Peran manajer sebagai coach adalah mencontohkan (role model) keterampilan tertentu yang perlu dikuasai oleh karyawan, memberikan umpan balik kepada karyawan, dan memastikan bahwa karyawan mampu menguasai keterampilan baru.
  3. Keterampilan mendengarkan (listening) yang baik dan memberikan umpan balik yang jujur menjadi sangat penting untuk dimiliki seorang coach.
  4. Dalam sesi pembinaan, seorang manajer tidak diharapkan untuk memberikan semua jawaban atas permasalahan karyawan. Kekuatan strategis dari setiap sesi coaching terletak pada kemampuan pelatih untuk mengajukan pertanyaan yang tepat.

Dalam siklus manajemen kinerja, coaching memegang peranan penting dalam pemantauan kinerja (monitoring). Oleh karenanya, penguasaan teknik coaching menjadi mutlak dimiliki seorang pemimpin.