Menggali dan Memanfaatkan Masukan dari Karyawan Baru di Masa Orientasi. 

Salah satu tugas tim SDM adalah menyelenggarakan tahap orientasi terhadap karyawan baru. Terlepas apapun wawasan, kesan yang dimiliki karyawan baru saat menjadi pihak luar tentang perusahaan yang baru merekrutnya, di masa orientasi, karyawan baru ini mulai melihat dari dalam tentang bagaimana budaya, cara kerja, fasilitas, dan berbagai aspek dari perusahaan. 

Salah satu cara paling mudah untuk menggali masukan dari para karyawan baru ini adalah dengan menanyakan langsung kepada mereka. Tapi bagaimana tim orientasi ini melakukan tugasnya menggali informasi tersebut dengan hasil yang maksimal. 

Berikut ini terdapat beberapa kiat yang bisa dijadikan pertimbangan agar proses penggalian masukan ini dapat mencapai hasil maksimal. 

  1. Dilakukan oleh pihak yang netral

Biasanya pihak yang paling sering berhubungan dengan karyawan baru adalah atasannya langsung. Tugas menggali masukan ini kurang tepat jika harus diberikan kepada atasan langsung seperti ini karena bisa menimbulkan perasaan canggung kepada karyawan baru yang sedang dimintai masukan. Karena merasa orang baru, bisa saja ia enggan mengutarakan masukan bernada kritikan kepada atasannya. 

Dalam situasi seperti ini, tim orientasi bisa langsung menggali masukan dari karyawan baru itu. Tim ini harus bisa membangun kepercayaan agar karyawan baru bersedia mengutarakan maksudnya. 

Penggalian informasi ini harus dilakukan berkala. Dalam proses ini sangat mungkin tim orientasi menemukan informasi penting yang bisa diaplikasikan untuk orientasi mendatang. 

2. Disediakan Beberapa Saluran 

Sulit bagi karyawan baru untuk mengetahui apakah suatu pelatihan orientasi akan relevan dengan pekerjaan mereka nantinya. Berdasar pemikiran tersebut, tim orientasi harus memberikan kemudahan dengan menyediakan beberapa format atau saluran. 

Survei merupakan alat yang sangat umum digunakan. Survei memungkinkan standarisasi proses pengumpulan masukan, karena setiap karyawan baru mendapatkan pertanyaan yang sama. Tetapi tim orientasi harus terbuka untuk berbagai bentuk masukan. 

3. Kuesioner tentang pengetahuan apa yang ingin didapatkan

Tim orientasi sering kali berhenti melacak mereka yang telah menyelesaikan orientasi. Ini bermasalah karena berbagai alasan. 

Pertama, dibutuhkan satu tahun atau lebih bagi anggota tim baru untuk diintegrasikan sepenuhnya ke dalam tim. 

Selain itu, jika tim orientasi kehilangan jejak karyawan setelah mereka menyelesaikan orientasi, tim orientasi kehilangan sumber informasi utama.

Mengumpulkan masukan tentang pengetahuan yang dibutuhkan dari karyawan yang sudah  satu atau 2 tahun menjalani masa jabatan dapat memberikan beberapa masukan penting. Selama masa itu, karyawan memiliki kesempatan menemukan ritme dan mencari tahu sendiri informasi yang tidak tercakup dalam masa orientasi. Karyawan yang telah bekerja selama satu atau dua tahun memiliki pengalaman tambahan itu tetapi masih belum terlalu jauh dari masa orientasi untuk dapat mengidentifikasi pengetahuan apa yang belum didapatkan saat pelatihan masa orientasi. 

4. Manfaat Jangka Panjang Mengumpulkan Masukan untuk Perbaikan Program Orientasi

Pelatihan masa orientasi dapat menjadi tahap penting sepanjang karier rekrutan baru. Program orientasi dapat memungkinkan rekrutan baru untuk mulai bekerja dan memungkinkannya untuk mulai berkontribusi pada tingkat tinggi di awal karir.

Proses orientasi yang direncanakan dengan baik harus dinamis dan beradaptasi dengan keadaan yang berubah serta menyesuaikan metode demi meraih hasil paling maksimal. Faktor kunci dalam proses penyesuaian itu adalah masukan dari rekrutan baru itu sendiri, dan staf SDM dan orientasi perlu memikirkan cara terbaik untuk mengumpulkan dan memanfaatkan masukan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.