Beberapa lembaga internasional, baik international magazines (Fortune, Forbes), NGO, atau konsultan bidang manajemen SDM secara berkala melaporkan ranking perusahaan di dunia dalam kategori Best Place to Work, tempat terbaik untuk bekerja.

Banyak penelitian yang menemukan bahwa karyawan yang engaged (terlibat aktif) dalam pekerjaan, berkomitmen tinggi pada pekerjaan, secara signifikan memiliki kinerja yang lebih produktif, mendorong kepuasan pelanggan yang lebih tinggi.

Namun demikian hanya 20 persen karyawan di seluruh dunia yang melaporkan bahwa mereka sepenuhnya terlibat di tempat kerja (Willis Tower Watson 2017). Ini tantangan bagi manajemen untuk meningkatkan engagement 80% karyawan lainnya.

Best Place to Work: Best Practice

Berdasarkan banyak penelitian yang dilakukan secara berkala oleh lembaga-lembaga internasional, beberapa kondisi yang ditemui dalam perusahaan yang masuk dalam jajaran peringkat tertinggi dalam kategori Best Place to Work sebagai berikut:

  1. Berkomitmen tinggi untuk menggaji setiap karyawan dengan upah yang layak. UMK adalah upah minimal, tetapi tidak selalu semua jabatan digaji dengan UMK. Karena perlunya struktur dan skala dalam penggajian yang diantaranya disesuaikan dengan job value, atau beban pekerjaan. Kesenjangan upah juga perlu dijaga. Jangan sampai ada karyawan yang digaji terlalu tinggi dari nilai jabatannya, sementara karyawan lain digaji dibawah standar.
  2. Berikan semua karyawan suatu opsi apabila perusahaan mencapai target kinerja dalam bentuk pembagian keuntungan, opsi saham, atau bonus yang terkait dengan kinerja. Jika perusahaan berkinerja baik, semua karyawan juga harus dapat menikmati.
  3. Rancang lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan menarik. Kantor dapat didesain yang memungkinkan privasi, kolaborasi, dan sekadar berkumpul. Sediakan tempat yang memungkinkan karyawan untuk istirahat (bahkan tidur) barang sejenak di waktu istirahat siang.
  4. Menyediakan makanan yang sehat, berkualitas tinggi, dengan harga serendah mungkin, termasuk dalam mesin penjual otomatis. Contoh terbaik adalah Google yang menyediakan makanan gratis selama 24 jam bagi seluruh karyawannya dengan cita rasa yang didukung chef-chef terbaik.
  5. Tawarkan gym lengkap dan fasilitas lain yang mendorong karyawan untuk bergerak secara fisik dan tetap bugar. Berikan insentif bagi karyawan untuk menggunakan fasilitas, termasuk selama hari kerja sebagai sumber pembaruan.
  6. Definisikan ekspektasi yang jelas dan spesifik target kinerja dalam pekerjaan apapun. Kemudian, perlakukan karyawan sebagai orang dewasa dengan memberikan otonomi sebanyak mungkin untuk memilih kapan, dimana, dan cara terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan.
  7. Monitor dan evaluasi kinerja secara dua arah. Karyawan tidak hanya menerima umpan balik regular tetapi juga diberi kesempatan untuk memberikan umpan balik kepada atasan. Ini memerlukan ke-legowo-an atau kelapangan dada atasan untuk menerima masukan bahkan kritik.
  8. Pertahankan para leader yang bertanggung jawab terhadap seluruh karyawan, dengan rasa hormat, penghargaan dan apresiasi yang tinggi. Dorong mereka untuk secara teratur mengenali para staf atau bawahan, beri pengakuan dan penghargaan untuk sekecil apapun kontribusi positif yang mereka buat.
  9. Buat kebijakan yang mendorong karyawan untuk fokus tanpa gangguan pada prioritas target kinerja mereka yang paling penting, termasuk proyek jangka panjang dan pemikiran yang lebih strategis dan kreatif untuk perusahaan. Berikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan proyek mereka dan mengaktualisasikan dirinya semaksimal mungkin yang diharapkan dapat menambah nilai bagi perusahaan.
  10. Perusahaan membuat sistem insentif yang memungkinkan karyawan termotivasi untuk mengembangkan diri, belajar, dan tumbuh, baik untuk skill yang terkait dengan pekerjaan saat ini atau untuk proyeksi pengembangan kompetensi ke depan.

Praktek dalam mengelola SDM di atas banyak dipraktekkan dalam perusahaan-perusahaan yang tergolong dalan Best Place to Work in the world. Memang, sulit ditemui perusahaan yang dapat memenuhi kriteri tersebut secara sempurna. Namun, point-point di atas dapat menginspirasi bagi perusahaan untuk mengembangkan kebijakan dan sistem untuk meningkatkan engagement karyawan.