Karyawan Kehilangan Aktifitas Bimbingan Selama Pandemi

Generasi milenial saat ini memasuki masa produktifnya. Pada masa awal memasuki dunia kerja tentu saja mereka banyak memerlukan bimbingan dari para seniornya. Para generasi milenial itu sedang berada pada masa dahaga akan pengalaman di dunia kerja. Dan asupan pengalaman, baik yang diperoleh secara langsung atau didapat dari orang yang lebih senior, akan sangat membantu dalam pengembangan karir yang berkelanjutan. Namun pandemi telah menyebabkan beberapa inisiatif pelatihan terhenti, dan banyak dari mereka menginginkan adanya program pengembangan diri.

Menurut hasil penelitian terbaru, ekspektasi karyawan untuk mendapat kesempatan berpartisipasi dalam program pengembangan karier sangat berbeda dari apa yang ditawarkan oleh pemberi kerja.

Bimbingan dari para manajer menjadi sangat penting bagi karyawan selama masa pandemi. Namun, organisasi gagal memenuhi ekspektasi ini.

Bimbingan aktif sangat penting untuk membantu karyawan mencapai tujuan profesional mereka dan memajukan karier mereka. Manfaat itu juga dapat dirasakan oleh organisasi, karena bimbingan itu dapat berperan penting dalam mengurangi tingkat keluar masuk karyawan yang terus meningkat. Meskipun hal itu berlaku dalam keadaan normal, hal itu juga berlaku selama masa krisis. 

Pelatihan bukanlah satu-satunya hal yang terlewatkan; tampaknya komunikasi tatap muka juga bermasalah. Hambatan metode dan alat komunikasi dan kolaborasi “membuat manajer sukar dihubungi oleh tim mereka dan mempersulit karyawan untuk menyampaikan keinginan tentang tujuan dan prioritas pengembangan karier mereka”.

Meskipun mengalami keterbatasan dalam hal komunikasi, para manajer dan karyawan mencoba mengatasinya dengan beragam platform komunikasi, mulai dari email, aplikasi perpesanan hingga konferensi video. Ketika terjadi pertemuan pribadi antara karyawan dengan manajer, karyawan mengharapkan atasannya memberikan arahan yang jelas tentang peran dan tanggung jawab mereka. Mereka juga mengharap bimbingan dan dukungan manajer untuk tujuan pengembangan karir. Ini berarti karyawan ingin atasannya berperan aktif dalam pertumbuhan karirnya.

Pertumbuhan karir dan krisis biasanya bukan pasangan yang serasi. Karyawan cenderung menahan diri untuk membahas tujuan mereka karena takut — kehilangan pekerjaan atau dianggap tidak tahu berterima kasih . Pada saat yang sama, organisasi cenderung bekerja keras dalam kondisi krisis dan memfokuskan semua sumber daya untuk menjaga bisnis tetap berjalan.

Tapi justru itulah mengapa pengembangan profesional sangat penting di masa krisis. Pengembangan karier tidak hanya dapat memberdayakan karyawan untuk mencapai potensi terbaik dan mencapai tujuan karier jangka panjang mereka, tetapi juga dapat membantu organisasi mengatasi tingkat pergantian karyawan yang tinggi.

Meskipun organisasi telah membuat langkah besar dengan bekerja dari jauh selama masa pandemi, jelas bahwa prioritas sekarang harus dialihkan kembali ke manajemen bakat. Sekaranglah waktunya untuk mengembalikan pertumbuhan karier karyawan ke jalur yang benar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.