Kecerdasan Emosional dan Kepemimpinan

Renungkan kembali saat-saat Anda masih bersekolah dan kemudian proyeksikan ke depan ke hari ini, dan Anda mungkin akan mengamati bahwa tidak selalu anak-anak terpandai yang kemudian jadi yang paling sukses. Itu karena kesuksesan, diiringi oleh keberhasilan dalam hal kepemimpinan. Ini bukan hanya tentang memiliki IQ tertinggi. Kecerdasan emosional dan kepemimpinan memiliki suatu keterjalinan.

Hanya mempertimbangkan variabel IQ saja terlalu sempit jika ingin mengidentifikasi calon pemimpin. Calon pemimpin bukan hanya harus mengetahui bisnis secara akademis, tetapi juga terus berupaya meningkatkan kecerdasan dan pemahaman mereka di bidang lain, seperti empati, komunikasi, perilaku, perasaan, dsb.

Kecerdasan emosional sebenarnya jauh lebih ilmiah daripada sekadar meningkatkan pengetahuan tentang sesuatu yang sensitif. Nilai EQ (Emotional Quotient),seperti IQ (Intelligence Quotient) yang mengukur kecerdasan kognisi, EQ mengukur kecerdasan emosional Anda. Namun, tidak ada ukuran standar EQ, jadi satu-satunya cara untuk membandingkan dua individu adalah dengan meminta mereka mengikuti tes yang sama.

Untuk mencapai kesuksesan, kita perlu mengembangkan kecerdasan emosional dengan meningkatkan pemahaman dalam dua bidang:

  1. Kompetensi Pribadi
  2. Kompetensi sosial

1. Kompetensi Pribadi

Kompetensi pribadi mengacu pada pemahaman tentang diri sendiri – faktor apa yang mendorong Anda, penilaian diri, kesiapan membuat komitmen, dan apakah Anda dapat dipercaya. Kompetensi pribadi sering dipecah menjadi tiga kategori, dengan subkategori lebih lanjut di bawah setiap kategori.

1.1 Kesadaran Diri

  • Kesadaran Emosional: mampu mengenali emosi kita sendiri dan dampaknya terhadap perilaku kita.
  • Penilaian Diri: cukup reflektif untuk menyadari kekuatan dan kelemahan kita.
  • Percaya Diri: keyakinan kita pada kemampuan kita sendiri dan kesediaan kita untuk mengambil pandangan yang berlawanan jika kita percaya itu hal yang benar untuk dilakukan.

1.2 Pengendalian Diri

  • Kontrol Diri: kemampuan kita untuk mengelola emosi yang mengganggu dan tetap positif dan terkendali.
  • Kepercayaan: keandalan dan keotentikan diri sendiri.
  • Consciousness: tingkat akuntabilitas diri terhadap kinerja kita sendiri, dan tidak menyalahkan orang lain.
  • Kemampuan beradaptasi: tingkat keahlian kita dalam menangani perubahan, dan juga kemampuan kita untuk mengelola tuntutan yang berbeda dan sering bertentangan dengan kebutuhan kita.
  • Daya cipta: kemampuan mencari dan menciptakan ide-ide baru.

1.3 Motivasi Diri

  • Achievement Drive: ukuran keinginan kita memberikan dan memenuhi hasil, dan keinginan kita melakukan sesuatu dengan lebih baik.
  • Komitmen: kesediaan memenuhi tujuan kelompok. Kesiapan membuat pengorbanan pribadi untuk membantu kelompok mencapai tujuannya.
  • Inisiatif: kemampuan untuk segera bergerak menyelesaikan sesuatu.
  • Optimisme: kemampuan kita untuk tetap positif dan terus mengejar tujuan kita meskipun ada hambatan yang muncul.

2. Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial mengacu pada kemampuan kita untuk memahami orang lain dan interaksi kita dengan mereka. Kompetensi Sosial sering dipecah menjadi dua kategori,

2.1 Kesadaran Sosial

  • Empati: kemampuan kita untuk benar-benar memahami orang lain dan memahami sesuatu dari sudut pandang mereka.
  • Service Orientation: kemampuan kita untuk mengantisipasi dan kemudian memenuhi kebutuhan pelanggan.
  • Mengembangkan Orang Lain: kapasitas kita memahami kekuatan dan kelemahan orang lain, kemudian mengembangkan bidang yang lemah.
  • Leveraging Diversity: seberapa bisa kita melihat keragaman sebagai hal yang positif, bahkan menciptakan peluang dari hal itu.
  • Kesadaran Politik: memahami jaringan kekuasaan dan jaringan sosial dan mengetahui bagaimana bekerja dalam struktur ini.

2.2 Keterampilan Sosial

  • Mempengaruhi: kemampuan kita untuk membujuk dan membangun konsensus.
  • Komunikasi: mengacu pada kemampuan berkomunikasi dengan jelas dan ringkas melalui saluran yang paling tepat.
  • Kepemimpinan: kemampuan kita untuk membuat orang lain bersemangat atau terinspirasi oleh visi kita.
  • Change Catalyst: seberapa kuat kita menyadari bahwa perubahan diperlukan, dan kemudian kapasitas kita untuk memulai dan mengelola perubahan itu.
  • Manajemen Konflik: kemampuan kita untuk mengelola dan menyelesaikan perselisihan.
  • Membangun Ikatan: kapasitas kita untuk membangun dan kemudian memelihara hubungan yang saling menguntungkan dengan orang lain (gabungan jaringan pribadi dan profesional kita)
  • Kolaborasi dan Kerjasama: kemampuan kita untuk bekerja dengan orang lain sebagai bagian dari tim untuk mencapai tujuan bersama.
  • Kemampuan Tim: kompetensi kita membangun semangat tim dan menyatukan anggota tim.

Demikianlah daftar item kecerdasan emosional yang harus dikuasai seseorang bila ingin menjadi pemimpin yang efektif dan berwawasan luas – selain penguasaan bisnis secara akademis tentunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.