Kepemimpinan Adalah Mempengaruhi (1)
Menurut John C. Maxwel, indikator kepemimpinan yang sejati pada diri seseorang adalah kemampuan orang tersebut membuat pengaruh bagi orang-orang di sekitarnya. Terkait tema ini terdapat dua tokoh wanita yang secara penampilan disik sangat berbeda jauh, namun memiliki pengaruh yang kurang lebih sama bagi orang-orang di sekitarnya.
Dua tokoh wanita yang sangat berbeda itu adalah Putri Diana dan Bunda Teresa. Meskipun mereka sangat berbeda – yang satu adalah sosok yang tinggi, dari Inggris, dikelilingi para pejabat dan orang-orang ternama, yang lainnya adalah sosok sederhana dari Albania, dikelilingi orang-orang biasa, dan menetap di INDIA, keduanya memiliki dampak yang sangat mirip dan dianggap sebagai dua orang yang paling peduli di dunia pada tahun 1996.
Dalam hal mempertontonkan seperti apa yang dimaksud dengan pengaruh dan apa yang dapat dilakukan oleh pengaruh, Diana merupakan contoh seseorang yang memahami prinsip-prinsip yang berlaku diseputar pengaruh tersebut. Diana menunjukkan bahwa pengaruh yang kuat tidak tergantung pada gelar atau jabatan seseorang, tetapi pada kemampuan seseorang untuk melayani orang lain dan membangun hubungan penting dengan berbagai pihak, seperti politisi, penggiat aktifitas kemanusiaan, entertainer, hingga kepala negara.
Dalam perannya sebagai putri kerajaan, Diana awalnya terlihat sangat pemalu dan kewalahan dalam menghadapi perhatian yang diterima oleh dia dan suaminya. Namun, seiring berjalannya waktu, dia mulai melakukan berbagai perjalanan dan mewakili keluarga kerajaan di berbagai fungsi di seluruh dunia, dan ia dengan cepat menjadikan perannya untuk melayani orang lain dan mengumpulkan dana untuk banyak amal. Dia juga memobilisasi orang untuk menyuarakan isu-isu penting seperti penelitian AIDS, perawatan untuk orang yang menderita kusta, dan larangan penggunaan ranjau darat.
Diana dengan cepat membangun pengaruhnya, dan pada akhirnya, ia menjadi orang yang sangat berpengaruh. Pada tahun 1996, ketika ia bercerai dari Pangeran Charles, ia kehilangan gelarnya, tetapi pengaruhnya terhadap orang lain tidak berkurang sama sekali. Bahkan setelah kematian Diana, ia terus memengaruhi orang lain. Saat pemakamannya disiarkan di televisi dan BBC Radio, siaran itu diterjemahkan ke empat puluh empat bahasa. NBC memperkirakan total audiens mencapai 2,5 miliar orang – lebih dari dua kali jumlah orang yang menonton pernikahannya.
Ditinjau dari pengaruh yang dimiliki, Diana pantas disebut sebagai pemimpin. Kisah Diana memperlihatkan bahwa pengaruh yang kuat dalam kepemimpinan didasarkan pada kemampuan seseorang untuk melayani orang lain dan membangun hubungan penting dengan berbagai pihak. Seorang pemimpin harus memahami bahwa kepemimpinan bukanlah tentang gelar atau jabatan yang dimilikinya, tetapi tentang kemampuannya untuk mempengaruhi dan membawa perubahan positif dalam kehidupan orang lain. Pengaruh seseorang dapat terus berlanjut bahkan setelah kematian, sehingga sebagai pemimpin, seseorang harus berusaha untuk meninggalkan jejak positif yang dapat memengaruhi kehidupan orang lain untuk selamanya.