HR from The Outside In, ini buku fenomenal karya Dave Ulrich, seorang yang ditahbiskan sebagai guru di dunia HR manajemen. Melalui buku ini, Ulrich ingin MERUBAH paradigma tentang fungsi dan peran HR dalam konteks bisnis.

Great HR is about Making the Business Better

HR system is not template. Seringkali para pengola SDM sibuk membangun sistem HR yang sedemikian rupa, kompleks dan njelimet (baca: rumit), bahkan sangat teknis mengikuti how to yang rigid tentang sistem HR. Effort yang cukup tinggi tersebut ironisnya sering tidak berbanding lurus dengan kinerja perusahaan.

Sistem HR yang komplit tidak sulit untuk ditemui di beberapa perusahaan besar di Indonesia. Siapa tidak kenal dengan Telkom, Antam, Astra, dan banyak lagi, yang menjadi jujugan studi banding untuk membangun sistem HR yang baik.

Pertanyaannya, kalau suatu perusahaan mengadopsi sistem manajemen SDM yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan mapan tersebut, entah dalam aspek manpower planning, rekrutmen, training dan pengembangan, retensi, maupun kompensasi dan benefit, apakah menjamin akan mendongkrak kinerja perusahaan? Jawabannya simple, between yes or not.

Kemudian, apa yang menjadi tolok ukur keberhasilan sistem SDM yang diterapkan suatu perusahaan/organisasi? Apakah dokumen atau aturan-aturan SDM yang lengkap, atau rujukan pada sistem-sistem yang branded? Selama HR dibangun untuk kepentingan HR itu sendiri, maka aktifitas HR tidak akan membawa perusahaan menjadi lebih baik.

Jadi, membangun HR tidak bisa dilepaskan begitu saja dari bisnis perusahaan. Kata kuncinya adalah 3A Alignment, Alignment, dan sekali lagi Alignment, sekedar untuk menekankan. Penyelarasan aktifitas HR dengan bisnis perusahaan akan membawa dampak yang signifikan untuk kinerja perusahaan menjadi lebih baik, dari aspek finance, produksi, pembelajaran karyawan, maupun pengembangan sistem internal. This is the meaning of Strategic HR.

HR sebagai Strategic Partner

Untuk bisa menjadi strategic partner 4 faktor yang perlu diketahui sebagai berikut:
1. Memahami Strategi Bisnis Perusahaan

Strategi bisnis perusahan memmberikan arah bagi strategi manajemen human capital. Perusahaan yang beranjak menuju online system, tentunya harus didukung dengan SDM yang paham dengan dunia online. Training yang diusun juga harus mendukung agar online system dapat dijalankan oleh karyawan.

  1. Memahami Kebutuhan Stakeholder

Stakeholder adalah pihak-pihak yang berkepentingan langsung dengan perusahaan. Secara umum, stakeholder adalah pelanggan, supplier atau vendor, dan instansi terkait serta orang-orang yang berkepentingan dengan perusahaan. Strategi dalam human capital sejatinya harus mempertimbangkan faktor stakeholder, khususnya pengguna jasa.

Michael Porter mengatakan,”The main purpose of the business is not (only) to make money. The main purpose of the business is to create customers “. Kebutuhan pengguna jasa menjadi pertimbangan perusahaan dalam menyiapkan SDM agar pelanggan puas dengan pelayanan karyawan perusahaan.

  1. Pemahaman Peluang dan Tantangan Bisnis ke Depan

Perusahaan didirikan untuk jangka waktu yang panjang bahkan diharapkan dapat eksis sepanjang masa. Pemahaman terhadap peluang dan tantangan ke depan dapat mendorong perusahaan untuk menyiapkan human capitalnya lebih awal sehingga pada saatnya perusahaan akan mampu menjawab tantangan bisnis dengan SDM yang unggul.

HR from the Outside In, menginspirasi bahwa pengembangan strategi, sistem, dan teknis dalam manajemen human capital hendaknya berangkat dari kondisi dan kebutuhan eksternal saat ini maupun ke depan.