Meningkatkan Keterlibatan Karyawan Saat Kembali ke Tempat Kerja

Karyawan adalah fondasi kesuksesan bisnis. Ketika organisasi berusaha bagaimana terus bertahan di dunia pasca-pandemi, para pemimpin perlu memikirkan kembali tujuan jangka pendek untuk menjaga karyawan tetap produktif, terlibat, sehat, serta memantapkan tujuan jangka panjang yang membangun kepercayaan. .

Jika organisasi memutuskan untuk memulai kembali aktifitas, hendaknya keputusan itu didekati dengan cara yang membuat karyawan merasa bahwa keputusan itu demi kepentingan mereka; di sinilah kepercayaan dan tujuan berperan. Bagaimana kita membangun kepercayaan dan memantapkan tujuan itu?

Menciptakan Budaya Transparansi

Ketika realitas baru membuat kita terus beradaptasi, kita harus fleksibel, dan siap menghadapi hal yang tidak terduga, menumbuhkan budaya transparansi menciptakan fondasi yang kuat bagi bisnis untuk membangun ketahanan sekaligus menjaga organisasi tetap lincah dan bergerak maju. Kuncinya adalah komunikasi dan aksesibilitas.

Jadikan keterlibatan karyawan, sebagai fokus dalam komunikasi, bukannya pekerjaan. Komunikasi harus berkelanjutan dan terus terang, meskipun saat jawaban tidakada. Dengan demikian anggota organisasi secara aktif terlibat dalam dialog terbuka sekaligus membangun kepercayaan.

Penting bagi para pemimpin untuk melibatkan karyawan di setiap tingkatan. Gaya komunikasi yang mengandalkan orang lain untuk menyampaikan pesan adalah pola komunikasi yang harus dihindari.

Pemimpin yang selalu ada memberikan ketenangan dan stabilitas lingkungan kerja. Check-in grup secara teratur melalui konferensi video dapat dilakukan demi menjaga jalur komunikasi. Dan yang paling penting adalah selalu menjadi pendengar yang baik.

Mengatasi Ketakutan

Salah satu jenis ketakutan manusia adalah ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Efek dari pandemi adalah munculnya ketakutan yang menyentuh setiap bagian dari hidup kita saat ini, dan tempat kerja adalah salah satunya. Di masa-masa yang meresahkan ini, karyawan takut akan segala hal mulai dari bahaya ancaman kesehatan, diberhentikan, tanggung jawab pekerjaan yang direvisi, dan reorganisasi. Peran pemimpin adalah untuk mengurangi rasa takut itu.

Daripada menggunakan pendekatan “kembali ke bisnis seperti biasa” dan yakin bahwa itu akan memunculkan ketenangan, sampaikan kepada karyawan bahwa Anda memahami kekhawatiran mereka dan kaitkan dengan diri Anda sendiri. Bersikap empatik dan dengarkan pemikiran mereka. Ketika karyawan didengar, mereka merasa dihormati dan menjadi lebih setia kepada organisasi sekaligus membantu meredam ketakutan.

Setelah mengenali kekhawatiran karyawan, fokuskan pembicaraan pada hal yang diketahui saja dan bagaimana mengendalikannya. Anda bisa menyampaikan visi dan misi perusahaan sebagai sesuatu yang lebih pasti dan dihubungkan dengan kondisi bisnis teraktual. Dengan memfokuskan pada sesuatu yang diketahui, dapat mengurangi ketakutan.

Bersikap Positif

Peran utama seorang pemimpin adalah menginspirasi. Penelitian menunjukkan “bahwa manusia cenderung meniru perilaku orang lain, terutama mereka yang memiliki otoritas.” Saat memungkinkan, rayakan kemenangan, besar atau kecil, dan sebarkan berita yang menginspirasi di seluruh organisasi, seperti keberhasilan mendapat pelanggan baru, atau kesuksesan bekerja dari jarak jauh. Keberadaan kita semua hingga saat ini, menjalani cobaan berupa pandemi, beradaptasi dengan kondisi adalah suatu keberhasilan; jadi berikan pujian kepada mereka untuk itu!

Sebagai penutup, renungkanlah poin-poin di atas, hal-hal tersebut selalu menjadi ciri pemimpin sejati. Sekarang adalah waktunya untuk meletakkannya di urutan teratas daftar tugas Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.