Psikologi Evaluasi Karyawan

Evaluasi karyawan adalah alat untuk memotivasi yang digunakan oleh manajer untuk menilai kinerja seorang karyawan dalam pekerjaannya. Sementara maksud evaluasi adalah membantu karyawan memahami bidang keunggulannya dan bidang yang butuh perbaikan, beberapa pemimpin menyalahgunakannya atau secara tidak akurat mengomunikasikannya kepada karyawan.

niat motivasi

Tujuan psikologis dari evaluasi karyawan adalah motivasi. Anda dapat memotivasi seorang karyawan menggunakan dua cara dengan penilaian yang efektif atas pekerjaannya. Dengan menunjukkan bidang kinerjanya yang menonjol dan menetapkan target yang lebih tinggi, Anda memberikan pengaruh yang baik atas sisi positif karyawan. Ketika Anda menawarkan koreksi dan arahan pada bidang yang lemah atau kinerja yang lebih buruk, Anda perlu memotivasinya agar lebih baik.
Karyawan umumnya harus tahu seperti apa kondisinya pada waktu tertentu. Namun seperti apapun kondisi karyawan, proses evaluasi formal membantu memperkuat kualitas pekerjaan mereka pada bidang yang paling utama.

Kesalahpahaman

Karyawan sering memiliki kesalahpahaman mengenai tujuan evaluasi. Beberapa hanya melihatnya sebagai titik di mana manajer menambah atau menurunkan kompensasi kinerja. Asumsi yang umum dipahami adalah bila hasil evaluasi baik berarti kenaikan gaji atau bonus. Karyawan mungkin memiliki pemahaman seperti ini karena pimpinan keliru mengomunikasikan pendekatan evaluasi. Sementara ada pula yang terlalu menyederhanakan fungsi evaluasi, evaluasi berkala hanya untuk memberikan sedikit kenaikan gaji dan menenangkan karyawan. Ini bukan penggunaan evaluasi karyawan yang efektif. Jika seorang karyawan layak mendapat kenaikan gaji, harusnya dia tidak perlu menunggu sampai evaluasi. Manajemen harus segera memberi penguatan ketika karyawan menunjukkan pertumbuhan kinerja, sehingga karyawan menghubungkan kenaikan gaji dengan hasil peningkatan kinerjanya. Jika karyawan merasa kurang dihargai, dia mungkin mencari pekerjaan lain sebelum waktu evaluasi.

Kesalahan Supervisor

Banyak supervisor membuat kesalahan umum yang berdampak negatif pada manfaat psikologis dari evaluasi. Beberapa supervisor terlalu lunak terhadap karyawan sementara yang lain terlalu ketat. Pengawasan yang terlalu lunak dapat menyebabkan karyawan memiliki rasa aman yang menjebak, di sisi lain karyawan memiliki motivasi yang rendah karena terlalu banyak pengawasan. Kesalahan yang lain, supervisor hanya memberikan nilai tinggi kepada karyawan yang baik secara menyeluruh alih-alih secara jujur ​​menilai dia pada setiap kriteria. Efek kebaruan membuat supervisor lebih menekankan pada pekerjaan terakhir karyawan daripada melihat keseluruhan kinerja. Dalam beberapa kasus, supervisor hanya salah menafsirkan kekuatan dan kelemahan kinerja, yang memberi karyawan pandangan yang salah tentang pekerjaannya.

Psikologi Kontemporer

Pandangan tentang psikologi evaluasi telah berubah di awal abad ke-21. Penentang tinjauan kinerja tradisional mencatat bahwa manajer sering menghindari komunikasi yang teratur dan berkelanjutan dengan karyawan dan mengejutkan mereka saat evaluasi. Evaluasi yang baik seharusnya tidak memiliki kejutan yang terlalu positif atau negatif. Karyawan harus menerima pujian atau masukan saat diperlukan. Beberapa penelitian menunjukkan evaluasi karyawan tidak efektif atau bahkan mengurangi motivasi secara keseluruhan. Dalam artikel Psychology Today-nya “Time For CEOs To Scrap Employee Performance Reviews,” Ray B. Williams mengungkapkan beberapa penelitian menunjukkan sebanyak 90 persen ulasan tidak efektif. Gaya kepemimpinan mentoring atau coaching yang lebih berkelanjutan adalah salah satu pendekatan yang direkomendasikan ketika memberikan umpan balik sebagai pengganti evaluasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.