Komponen Bangunan Struktur Organisasi

Sebuah perusahaan, divisi, atau tim yang hebat biasanya memiliki sebuah struktur organisasi yang tepat – struktur yang disesuaikan dengan tujuan perusahaan, divisi, atau tim, dan struktur yang membantu karyawan memahami bagaimana mereka menyesuaikan dengan gambaran keseluruhan organisasi. Tanpa struktur yang tepat, sebuah organisasi mungkin gagal berfungsi secara efisien, atau bahkan runtuh.

Sebelum memutuskan jenis struktur organisasi mana yang paling cocok untuk perusahaan, divisi, atau tim kita, pertama-tama kita perlu memahami bagaimana struktur organisasi dibangun – apa saja komponen bangunan yang dapat kita tata? Mari kita jelajahi beberapa komponen utama struktur organisasi tersebut.

1. Rantai Komando

Salah satu elemen paling dasar dari struktur organisasi, rantai komando adalh garis otoritas tak terputus yang membentang dari puncak organisasi (misalnya CEO) sampai ke bawah. Rantai komando menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada siapa dalam organisasi.

2. Rentang Kendali

Rentang kendali mengacu pada jumlah bawahan yang dapat dikelola secara efektif oleh atasan. Semakin banyak rasio jumlah bawahan dibanding atasan, semakin lebar rentang kendali.

3. Sentralisasi

Siapa yang membuat keputusan dalam suatu organisasi? Jika kekuatan pengambilan keputusan terkonsentrasi pada satu titik, disebut struktur organisasi terpusat. Jika kekuasaan pengambilan keputusan tersebar, strukturnya disebut terdesentralisasi. Sementara struktur yang terdesentralisasi mendorong proses pengambilan keputusan yang lebih demokratis, struktur tersebut juga dapat memperlambat proses pengambilan keputusan, sehingga mempersulit organisasi untuk beroperasi secara efisien.

4. Spesialisasi

Hal ini juga dikenal sebagai pembagian kerja, spesialisasi adalah sejauh mana kegiatan atau tugas dalam suatu organisasi dipecah dan dibagi menjadi pekerjaan yang lebih spesifik yang ditangani secara individual. Spesialisasi tinggi dapat bermanfaat bagi suatu organisasi, karena memungkinkan karyawan untuk menjadi “master” di bidang tertentu, sebagai hasilnya meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Namun, spesialisasi yang rendah memungkinkan lebih banyak fleksibilitas, karena karyawan dapat lebih mudah menangani serangkaian tugas yang lebih banyak (sebagai lawan dari spesialisasi untuk satu tugas).

5. Formalisasi

Mirip dengan spesialisasi, formalisasi berkaitan dengan bagaimana pekerjaan terstruktur dalam suatu organisasi. Pembeda utama di sini adalah bahwa formalisasi juga memperhitungkan sejauh mana tugas dan aktivitas karyawan diatur oleh aturan, prosedur, dan mekanisme lainnya.

Struktur organisasi formal berusaha memisahkan individu dari peran atau posisi/jabatan, karena peran atau jabatan tetap sama terlepas dari siapapun yang memegangnya. Sebuah organisasi informal, di sisi lain, menempatkan nilai lebih pada individu. Ini memungkinkan evolusi peran atau posisi berdasarkan preferensi individu, keahlian, dsb., dan kurang mementingkan tim atau departemen apa yang menjadi bagian dari individu tersebut.

6. Departementalisasi

Departementalisasi mengacu pada proses pengelompokan pekerjaan bersama-sama untuk mengkoordinasikan kegiatan dan tugas bersama.0Jika sebuah organisasi memiliki departementalisasi yang kaku, setiap departemen atau tim sangat otonom, dan hanya ada sedikit (atau bahkan tidak ada) interaksi antara tim yang berbeda. Sebaliknya, departementalisasi longgar mensyaratkan bahwa tim memiliki lebih banyak kebebasan untuk berinteraksi dan berkolaborasi. Perlu dicatat bahwa cara departementalisasi organisasi sering digunakan sebagai proxy untuk keseluruhan jenis struktur organisasi yang dimiliki organisasi. Misalnya, sebuah organisasi yang melakukan departementalisasi berdasarkan fungsi (yaitu pemasaran, penjualan, layanan), dikatakan memiliki struktur organisasi fungsional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.