Menyiasati Peningkatan Kesibukan di Masa Pandemi

Kelelahan karena kesibukan kerja menjadi masalah yang banyak diperbincangkan. Seolah terasa aneh jika ada seorang karyawan yang memiliki karir tidak merasa sibuk dalam kesehariannya. 

Kesibukan dalam tingkatan tertentu mampu memberikan motivasi dalam bekerja. Karyawan yang disibukkan oleh pekerjaan dan memenuhi target yang diberikan akan merasakan kepuasan. Tapi kesibukan yang terlalu tinggi juga tidak baik. 

WHO menyatakan bahwa kelelahan emosional, fisik dan mental yang disebabkan oleh stres yang berlebihan dan berkepanjangan. Dapat menyebabkan masalah tidur dan diet hingga penyakit serius dan masalah kesehatan mental. 

Kebiasaan atau Keterpaksaan 

Beberapa orang ada yang sudah terbiasa bekerja secara responsif yaitu berdasarkan kebutuhan dan tanpa terikat waktu. Tapi mereka yang terbiasa dengan rutinitas, kondisi bekerja dari rumah mengganggu keteraturan yang biasa dijalani.  

Ditambah situasi lockdown yang penuh ketidakpastian, membuat karyawan resah atas masa depan karirnya yang membuat karyawan bekerja lebih keras di rumah dengan menyediakan waktu lebih banyak untuk pekerjaannya. 

Manajer menitikberatkan produktifitas dan kinerja karyawan selama pandemi. Hal ini membuat mereka berada dalam tekanan untuk ‘selalu aktif’ dan tampak sibuk. Padahal, mereka perlu istirahat untuk melakukan pekerjaan terbaiknya.

Hanya karena karyawan bisa berbuat lebih banyak, bukan berarti harus mengisi setiap waktu untuk pekerjaan. Sibuk bukanlah sesuatu yang pasti baik. Mampukah tim SDM mengubah paradigma dari sibuk menjadi produktif.

Mengatur Kinerja Secara Mandiri 

Tim SDM mengingatkan perlunya keseimbangan antara waktu bekerja dan waktu istirahat. Perlu ditegaskan kapan waktu bekerja dan istirahat, kapan bisa dihubungi dan kapan waktu tenang, serta pengaturan sesi yang lain bila perlu. 

Selama kondisi lockdown, karyawan semakin merasa resah. Keresahan ini juga mengurangi motivasi, dampak lanjutannya adalah menurunnya produktifitas. 

Dalam kondisi seperti itu, sulit untuk menjaga stabilitas kinerja karyawan. Selama masa pandemi, karyawan lebih butuh pengakuan atas kinerja mereka, pada kondisi ini manajemen bisa meningkatkan moral karyawan dengan lebih sering menonjolkan hal yang positif. 

Manajemen bisa mulai mengukur kinerja berdasarkan hasil, bukannya aktifitas.  Karyawan bisa bekerja secara fleksibel untuk mengelola kinerja mereka sendiri. 

Mereka dimungkinkan memilah tujuan yang paling prioritas dan hanya berfokus pada hal itu. Fokusnya berubah dari menyelesaikan pekerjaan sebanyak mungkin menjadi menyelesaikan tugas yang tepat pada waktu yang tepat tanpa perlu bekerja lembur.

Tidak Semata Jumlah Jam Kerja 

Memantau kinerja melalui jumlah jam kerja memang banyak memberi manfaat bagi manajemen. Namun hal ini harus diiringi komunikasi yang jelas tentang ekspektasi yang diharapkan manajemen. 

Jangan sampai penghargaan hanya ditekankan pada jumlah jam kerja saja. Perlu dipertimbangkan penghargaan yang didasari efisiensi kerja. Manajemen perlu menilai target yang realistis, bukannya target yang harus dicapai. 

Manajemen juga menekankan karyawan untuk menyediakan waktu untuk diri sendiri, seperti waktu keluarga atau refreshing. Sehingga saat  waktu istirahat, jika ada email pekerjaan, jangan mengharapkan karyawan untuk segera menanggapi email tersebut. 

Saat kondisi lockdown, bekerja di rumah dan mendidik anak sekaligus merupakan tekanan tersendiri. Jadi bagi yang terjebak dalam kebiasaan sibuk dengan pekerjaan, jangan melupakan menyediakan waktu untuk istirahat, merenung, melakukan spontanitas atau hanya sekadar berdiam diri. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.