On The Job LearningKaryawan lebih banyak belajar dari pengalaman mengerjakan tugas sehari-hari dari pada melalui training formal (in classroom) ansich. Tugas atasan adalah mendesain cara-cara untuk dapat mengembangkan karyawan melalui pengalaman dalam pekerjaan. On The Job Learning: Best Practices to Develop Employee.

Prasyarat: Hubungan Baik dengan Anggota Tim

Mengembangkan kapasitas anggota tim tidak akan efektif apabila hubungan antara leader dan anggota tim tidak harmonis. Dalam kondisi teamwork yang disharmoni seperti ini sulit bagi seorang pemimpin untuk dapat mengembangkan anggota tim melalui metode on the job learning experience. Oleh karenanya, hubungan baik dengan anggota tim menjadi prasyarat bagi keberhasilan metode ini.

The Trigger Experiences

Memberikan pengalaman praktis melalui pekerjaan kepada bawahan memberikan manfaat yang besar bagi karyawan. Karyawan akan merasa dipercaya, dihargai dan diperhatikan oleh atasan dengan memberikan tanggung jawab yang lebih besar atau berbeda dengan yang dikerjakan sebelumnya. Selain itu, on the job learning experience, pengalaman mengerjakan tugas dapat meningkatkan kompetensi karyawan, baik pengetahuan, ketrampilan, atau sikap dan kapasitas mental karyawan dalam menghadapi kesulitan atau kendala-kendala di lapangan.

Berikut ini beberapa aktifitas yang dapat digunakan untuk mengembangkan karyawan melalui pemberian tugas:

  1. Memberi penugasan sebagai penanggung jawab sementara pada saat atasan sedang cuti/tidak masuk/dinas di luar kantor.
  2. Sebagai mentor untuk karyawan baru.
  3. Mewakili tim untuk rapat antar divisi.
  4. Mengelola project dari perencanaan sampai project berakhir.
  5. Memindahkan ke unit kerja lain untuk memberikan pengalaman baru.
  6. Membantu untuk membuat produk/bisnis/program baru.
  7. Melibatkan dalam membangun bisnis/aktifitas baru.
  8. Mewawancara calon karyawan.
  9. Memimpin rapat atau sesi briefing.

Umpan Balik Setelah Penugasan

Setelah penugasan dilakukan, atasan dapat memberikan feedback atau umpan balik. Sebelumnya atasan perlu menggali sampai sejauh mana project tersebut dilaksanakan, kendala-kendala, dan upaya-upaya yang sudah dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut. Ini diperlukan untuk memnentukan umpan balik yang akan diberikan kepada karyawan.

Setelah mengetahui sejauhmana tugas telah dilaksanakan, dalam suatu diskusi yang dua arah atasan dapat memberikan masukan-masukan tentang apa yang sudah baik dan aspek-aspek apa yang perlu diperhatikan untuk dikembangkan.

Metode umpan balik sebisa mungkin bersifat aspiratif. Atasan cukup menjadi fasilitator dalam sesi feedback tersebut. Atasan dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengeksplorasi pikiran dan emosi karyawan untuk menemukan solusinya secara mandiri.

Akhir dari sesi umpan balik ini, diharapkan karyawan menemukan emotional insight atas masalah dan pengalaman yang ditemukan pada saat penugasan. Emotional insight menjadi indikator bahwa karyawan memperoleh pengalaman berharga selama penugasan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya saat ini atau ke depan.

On the job learning experiences, akan menjadi best practices dalam pengembangan kapasitas karyawan, menjadi bekal untuk karir karyawan yang lebih baik.