Membangun Karyawan yang Tangguh

Salah satu hikmah yang bisa kita ambil dari kejadian pandemi global adalah mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan senantiasa diwarnai dengan tantangan yang tidak terduga. Menghadapi hal seperti itu, membutuhkan sosok yang tangguh atau ulet.

Individu yang ulet memiliki kecenderungan untuk tetap bertahan pada jalur yang ia tempuh ketika menemui rintangan, jadi membangun ketangguhan diri merupakan hal yang bermanfaat. Bagi perusahaan, memiliki karyawan yang tangguh merupakan suatu nilai lebih.

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa mental yang tangguh sangat penting di dunia kerja: 

  1. Pribadi yang ulet mampu mengatasi kondisi stress dengan lebih baik. Perusahaan yang memiliki karyawan tangguh cenderung memiliki kinerja yang baik meski berada di saat yang sulit. 
  2. Karyawan yang tangguh mampu menghadapi pasang surut yang menyertai pekerjaannya, sehingga kecil kemungkinan untuk mengundurkan diri ketika baru menemui masalah yang sebenarnya tidak terlalu besar. Ini berarti mengurangi tingkat turn over karyawan yang pada akhirnya memberikan dampak yang baik pada biaya organisasi. 
  3. Karyawan yang tangguh cenderung mencari solusi inovatif yang pada akhirnya bermuara dengan menghasilkan perbaikan pada proses atau produk perusahaan. 
  4. Jajaran manajemen harus terlatih untuk bisa memberi dukungan kepada karyawan ketika sedang menghadapi permasalahan. Mengetahui selalu ada sosok yang ada saat karyawan sedang membutuhkan, membuat mereka mampu menghadapi masa-masa sulit. Sering kali mereka yang sedang mengalami kesulitan tersebut sebenarnya hanya butuh sosok untuk menjadi pendengar yang baik atas keluh kesah yang akan disampaikan. 
  5. Memotivasi karyawan untuk membentuk hubungan kerja yang baik dengan sesama rekan kerja, sebab mereka dapat menjadi sumber dukungan. 
  6. Manajemen bisa mempertimbangkan untuk menawarkan pelatihan tentang soft skill yang memperkuat ketahanan atau keuletan.
  7. Menjalankan program mentoring untuk memperkuat dukungan sosial.
  8. Menambahkan program ke struktur tunjangan perusahaan yang membuat karyawan merasa didukung ketika menghadapi situasi tertekan, seperti: Pelatihan atau bantuan pengelolaan keuangan atau Program jaminan kesehatan karyawan
  9. Mendiskusikan bagaimana nilai-nilai organisasi perusahaan dikomunikasikan, baik secara publik maupun internal. Karyawan yang memiliki kesamaan dan kesepahaman nilai-nilai organisasinya lebih cenderung termotivasi untuk menghadapi masa-masa sulit dengan perusahaan.
  10. Meningkatkan intensitas komunikasi, terutama ketika menghadapi masa perubahan, saat di mana keuletan dibutuhkan. Dengan komunikasi yang intens juga dapat mengikis rasa ketidakpastian yang membayangi karyawan dan memberi rasa aman saat berada pada momen perubahan tersebut. 

Ketahanan atau keuletan karyawan dapat dikembangkan, dan program peningkatan keterampilan tersebut pada akhirnya juga mendukung kepentingan organisasi. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.