Survei Karyawan: Apakah diperlukan?

Apakah tim SDM Anda secara berkala mengadakan survei karyawan ? Jika iya, seberapa sering survei itu dilaksanakan? Atau mungkin hampir tidak pernah melakukannya? Atau bahkan tidak pernah menggunakan survei semacam ini?

Bagi sebagian organisasi, mengadakan survei adalah sesuatu yang biasa dilakukan. Survei itu bisa berupa survei kepuasan karyawan, survei keterikatan karyawan dan masih banyak jenis survei lainnya yang umum diselenggarakan. Tapi bagi sebagian organisasi yang lain, praktik ini tidak dilakukan secara teratur.

Tulisan ini mendiskusikan kelebihan dan kekurangan menyelenggarakan survei karyawan.

Beberapa kelebihan survei yang menjadikan program ini populer antara lain:

  1. Survei bisa memberikan wawasan tentang kebutuhan karyawan, tingkat stress yang dialami karyawan dan cara potensial untuk meningkatkan organisasi. Jika ditangani dengan baik, survei bahkan bisa menekan rasio perputaran karyawan.
  2. Survei merupakan cara yang mudah dan murah untuk mendapatkan wawasan tentang apa pendapat karyawan terhadap topik permasalahan tertentu.
  3. Survei merupakan alat yang fleksibel, sehingga dapat disesuaikan untuk mengumpulkan beragam informasi yang digunakan memecahkan beragam masalah.
  4. Terkadang karyawan kesulitan menemukan saluran untuk menyampaikan suatu masukan. Survei bisa menjadi saluran alternatif bagi karyawan.
  5. Survei memungkinkan jajaran manajemen untuk melihat masalah yang mungkin terlewatkan oleh mereka dan menindaklanjutinya lebih cepat.
  6. Survei anonim bisa menjadi sarana bagi karyawan untuk mengemukakan masalah sensitif yang takut mereka ungkapkan karena khawatir terhadap konsekuensi yang akan ia terima.
  7. Survei dapat mendapatkan perbandingan sentimen karyawan tentang topik tertentu dari waktu ke waktu.
  8. Survei bisa mendapatkan masukan dengan sangat cepat.

Selain kelebihan, survei karyawan juga memiliki potensi kekurangan. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Tidak ada jaminan atas kejujuran karyawan dalam memberikan jawaban, bahkan dengan survei anonim sekalipun. Ini berarti data hasil survei tersebut mungkin tidak memberikan tingkat kemanfaatan seperti yang diinginkan manajemen. Beberapa karyawan mungkin tidak percaya bahwa jawaban mereka akan dirahasiakan.
  2. Melakukan survei berisiko merusak moral karyawan jika organisasi tidak menanggapi masukan dengan serius. Menyebarkan survei menciptakan harapan bahwa manajemen akan mempertimbangkan masukan dari karyawan. Jika tidak ada perubahan, maka karyawan mungkin menjadi semakin tidak puas.
  3. Pertanyaan yang mengarahkan atau pertanyaan dengan pilihan kata-kata yang tidak sesuai dapat menyebabkan interpretasi hasil yang salah, membuat survei menjadi kurang berguna.
  4. Memunculkan beban administratif yang terkait dengan pembuatan, pengiriman, dan analisis survei. Ini membutuhkan waktu dan biaya. Apalagi jika ternyata tingkat respon kurang dari yang diharapkan, maka dibutuhkan lagi tambahan sumber daya untuk membuat karyawan bersedia mengisi survei.
  5. Jika tidak semua orang mengikuti survei, maka hasilnya mungkin tidak akurat.
  6. Karena survei dilakukan tidak terlalu sering, maka umpan balik yang dihasilkan terbatas pada waktu tertentu saja.
  7. Menyelesaikan survei bisa mengurangi waktu karyawan untuk mengerjakan tugas produktif lainnya. Permasalahan itu mungkin kecil, tetapi waktu itu bisa semakin banyak jika manajemen meminta semua karyawan untuk melakukannya. Mungkin juga malah ada waktu yang hilang untuk mendiskusikan tentang survei tersebut.
  8. Sebuah survei mungkin bisa mengangkat suatu masalah negatif ke permukaan, hal ini dapat menyebabkan karyawan dalam kondisi tidak nyaman.

Bagaimana tim SDM Anda menyikapi permasalahan survei karyawan ini? Apakah perusahaan Anda selalu melakukan praktik ini? Atau baru berencana akan memulai? Atau survei karyawan bukan praktik yang tepat untuk mengumpulkan masukan dari karyawan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.