Belajar dari Sejawat Industri Lainnya

Sudah menjadi kodrat alamiah organisasi di mana saja bahwa semakin tinggi suatu posisi maka individu yang mendudukinya akan semakin sedikit; hingga sampai pada puncak akan hanya diisi satu orang. Maka bagi siapapun yang sedang menaiki tangga karir di perusahaan, ketika seseorang sedang menduduki puncak piramida organisasi biasanya tidak akan mendapati orang lain dengan tingkat yang sama untuk dapat dia ajak berdiskusi dalam konteks yang setara.

Hal ini tidak hanya membuat kegiatan bersosialisasi lebih sulit, tetapi juga membatasi kemampuan para pemimpin senior untuk melakukan pertukaran ide-ide bersama kolega yang memiliki posisi serupa karena jumlahnya tidak banyak.

Menyikapi Permasalahan Etis

Berada dalam tingkatan yang hanya diisi oleh diri sendiri dalam organisasi juga dapat mempersulit pemahaman yang jelas tentang batasan etika dan norma perilaku. Seorang CEO di suatu perusahaan tidak bisa begitu saja mencontoh perilaku dari seorang CEO dari perusahaan selainnya tentang apakah pantas jika pulang sedikit lebih awal pada hari sabtu, berbelanja secara royal, atau memiliki hubungan khusus di  kantor.

Memang biasanya ada kebijakan yang mengatur masalah sumber daya manusia dan kebijakan perusahaan lainnya yang dapat mengatur permasalahan etika yang mudah dibedakan mana yang putih dan yang hitam, tetapi terkadang ada area abu-abu yang mungkin membuat seorang CEO mendambakan sosok rekan sejawat untuk dijadikan contoh perilaku.

Meskipun biasanya terdapat tidak lebih dari satu CEO di sebagian besar perusahaan, namun ada banyak CEO di seluruh dunia dan sebagian dari mereka memiliki profil yang menonjol, baik dari sisi pribadi maupun dari sisi perusahaan yang ia pimpin. 

mereka dapat menjadi sumber informasi dan wawasan yang sesuai tentang bagaimana cara berperilaku yang patut dalam satu situasi tertentu. Dan terutama bagi mereka yang memiliki profil yang menonjol, ketika mencapai prestasi tertentu maka media pasti akan ramai memberitakannya. Begitu pula sebaliknya, jika mereka melakukan kesalahan, biasanya media akan lebih ramai dan lebih luas membahas permasalahan seperti itu.

Belajar dari Kesalahan Besar CEO Lain

Banyak sekali sumber literatur seperti buku maupun berita, baik yang dicetak maupun berwujud artikel online, atau sumber informasi digital maupun televisi yang memmuat detail tentang permasalahan yang menjerat para CEO. Contoh yang bisa ditemui dari luar negeri antara lain seperti eksekutif Enron, Kenneth Lay dan Jeffrey Skilling, yang melakukan berbagai manipulasi keuangan di perusahaannya.

Contoh skandal dari Indonesia, yang sempat membuat geger, yaitu dipecatnya direktur utama Garuda Indonesia karena menyelundupkan barang mewah dengan mendompleng pesawat yang baru dipesan dari pabriknya. Daftar dua skandal di atas merupakan contoh kisah peringatan dari rekan-rekan industri agar bisa menjadi pelajaran bagi mereka yang berada di atas piramid organisasi.

Tapi tidak semua dari mereka yang mengalami pemecatan dapat disamakan dengan skandal di atas. Beberapa hanya berupa kesalahan kebijakan atau etika yang kurang pantas, seperti pemalsuan resume hingga memiliki hubungan dengan bawahan. Seperti halnya Steve Jobs yang diturunkan dari posisi CEO perusahaannya sendiri karena kebijakannya yang dinilai terlalu ambisius.

Penjelasan di atas memberikan contoh bahwa dengan tidak adanya staf yang memiliki posisi serupa di perusahaan mereka, para CEO dapat dan harus mencari model di organisasi lain untuk mengukur kinerja dan pengambilan keputusan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.