Tips Wawancara berdasarkan penelitian psikologis

Sejak 1960 Gallup telah memonitor opini publik tentang calon presiden AS, ia mempertanyakan apakah yang menjadi pertimbangan warga negara dalam menentukan pilihannya, apakah itu berdasar afiliasi partai, isu yang berkembang ketika momen pemilu, atau kesukaan. Dari faktor-faktor itu, ternyata sejumlah besar pemilih menjadikan kesukaan sebagai faktor penentu. Dari fakta ini dapat kita tarik hikmah bahwa kesukaan atau menjadi orang yang disukai adalah hal yang penting.

Penelitian psikologis juga telah dilakukan untuk mengetahui apa yang membuat seorang penyeleksi memutuskan untuk menerima seorang kandidat. Meskipun para pewawancara mengatakan bahwa keterampilan dan pengalaman adalah faktor terpenting yang mereka pertimbangkan, eksperimen menunjukkan bahwa faktor yang paling penting adalah apakah kandidat dinilai sebagai seorang yang menyenangkan atau disukai.

1. Kesukaan merupakan aspek penting selain pengalaman kerja dan latar belakang akademik.

Berdasarkan kesamaan kesukaan tersebut maka kesan sebagai seseorang yang menyenangkan akan muncul. Karena itu ada beberapa hal sederhana yang dapat Anda lakukan untuk meningkatkan kesan menyenangkan pada diri Anda.

Teliti organisasi yang akan Anda tuju terlebih dahulu untuk menemukan sesuatu yang benar-benar Anda sukai. Pastikan untuk mengungkapkan pendapat Anda bahwa Anda benar-benar menyukai itu.

Jangan ragu untuk memberikan komplemen kepada pewawancara dengan tulus, sewajarnya dan tidak perlu dibuat-buat.

Jika terdapat kesempatan yang dibuka oleh pewawancara, jangan ragu untuk membicarakan sebuah topik yang  menarik bagi Anda dan pewawancara yang tidak berkaitan langsung dengan interview pekerjaan. Anda bisa membicarakan kesamaan hobi atau kegemaran olah raga.

Cobalah menunjukkan minat pada pewawancara dengan bertanya individu seperti apa yang paling sesuai bagi keseluruhan organisasi dan tipe individu seperti apa yang dicari oleh perusahaan.

Tunjukkan antusiasme Anda Baik mengenai organisasi maupun pekerjaan.

Senyum, tunjukkan gestur, dan jaga kontak mata dengan pewawancara pada batas yang  proporsional.

2. Jangan bersembunyi di balik topeng

Jika Anda memiliki kelemahan, maka jangan menunda hingga akhir wawancara untuk mengungkapkannya. Anda akan mendapatkan tambahan nilai kredibilitas dengan menunjukkan bahwa Anda tidak takut mengungkapkan kekurangan sejak dini. Menunda mengungkapkan kelemahan membuat pewawancara merasa seolah-olah Anda memiliki sesuatu yang disembunyikan.

Sebaliknya ketika membicarakan sisi kekuatan Anda, jangan biarkan semua kelebihan atau koleksi penghargaan Anda muncul semua dari kotak penyimpanan di awal wawancara. Dengan menunda pengungkapan beberapa kelebihan atau prestasi Anda, Anda akan memunculkan kesan sebagai seseorang yang sederhana dan percaya diri. Biarkan kelebihan dan prestasi itu terlihat dengan sendirinya. Sebaliknya, mengeluarkan semua kelebihan Anda di awal wawancara dapat dilihat sebagai suatu kesombongan.

3. Hindarilah Spotlight bias

Ketika seseorang memperlihatkan satu kesalahan maka ia cenderung memiliki prasangka berlebihan. Ia over estimate sehingga ia merespon dengan sikap berlebihan pula. Jika Anda membuat kesalahan dalam suatu sesi wawancara, jangan mencoba untuk menghapusnya dengan respons bermacam-macam atau meminta maaf dengan berlebihan. Sebaliknya, cukup akui kesalahan, dan lanjutkan ke sesi berikutnya, tetapi jangan pula memperlihatkan seolah tidak terjadi apa-apa.

Perhatikan bahwa tips di atas hanya berlaku jika Anda sejak awal sudah merasa cocok dengan pekerjaan yang ditawarkan. Tentu saja, aspek kesukaaan ini juga tidak akan mampu membantu orang dengan catatan kriminal sebagai penjahat kambuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.