Kepemimpinan Situasional (3)

Empat gaya kepemimpinan situasional (lanjutan)

Melanjutkan pembahasan gaya kepemimpinan ketiga, gaya suportif. Contoh pemakaian gaya kepemimpinan suportif bisa digunakan ketika salah satu anggota tim Anda yang paling terampil tiba-tiba mengalami penurunan kinerja dalam beberapa hari terakhir. Anda menjadi khawatir karena Anda tahu ia mampu melakukan lebih dari yang ia lakukan saat ini. Menghadapi persoalan ini, Anda menerapkan gaya kepemimpinan situasional Suportif dan menjadwalkan pertemuan empat mata dengan yang bersangkutan. Ketika Anda mengetahui bahwa masalahnya bersifat pribadi, Anda menawarkan kesediaan untuk menjadi seorang pendengar yang baik. Apabila diperlukan, ia diperkenankan mengambil cuti beberapa waktu untuk menenangkan kegalauannya, memecahkan persoalannya, atau menemui psikolog. Setelah semuanya dirasa lebih baik dia dipersilahkan kembali bekerja seperti biasa.

4. Kepemimpinan delegasi

Gaya keempat adalah gaya kepemimpinan situasional yang mendelegasikan, juga dikenal sebagai gaya pemberdayaan atau kepemimpinan pemantau. Ketika anggota tim adalah orang-orang yang mandiri, mereka membutuhkan pemimpin yang cukup hanya berada di belakang saja. Gaya ini mendorong kebebasan bagi anggota tim dan menumbuhkan kepercayaan di antara anggota tim.

Misalkan, beberapa anggota tim yang telah bekerja bersama Anda selama beberapa tahun menyampaikan kepada Anda bahwa mereka merasa mampu menyelesaikan kontrak kerja yang akan datang secara mandiri. Dari pengalaman masa lalu, Anda juga tahu bahwa mereka memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Anda memutuskan untuk memberi mereka kebebasan bekerja tanpa pengawasan, paling Anda hanya akan didatangi bila ada persoalan yang terlalu kritis. Di akhir masa kontrak kerja Anda hanya perlu melakukan tinjauan akhir.

Gaya kepemimpinan harus disesuaikan dengan tingkat kedewasaan para bawahan. Gaya yang lebih menuntun mungkin diperlukan di awal proyek ketika anggota tim tidak memiliki tanggung jawab atau pengetahuan untuk bekerja sendiri. Namun, ketika mereka menjadi lebih berpengalaman dan berpengetahuan, pemimpin bisa beralih ke pendekatan yang lebih mendelegasikan.

Model kepemimpinan ini menekankan adanya fleksibilitas sehingga pemimpin mampu menyesuaikan kepemimpinannya dengan kebutuhan bawahann dan tuntutan situasi.

Kepemimpinan dengan pendekatan situasional juga bisa menghilangkan persoalan pendekatan kepemimpinan yang hanya terpaku pada satu pola. Caranya dengan mengakui bahwa terdapat banyak solusi dalam menangani suatu masalah. Para pemimpin harus mampu menilai situasi dan tingkat kedewasaan bawahan untuk menentukan solusi terbaik.

Teori situasional banyak memasukkan variabel kompleksitas situasi sosial yang dinamis dan banyaknya individu beserta beragam peran mereka yang pada akhirnya akan berkontribusi pada hasil.

Kepemimpinan Situasional II

Kepemimpinan Situasional II (Situational Leadership II, SLII) dikembangkan oleh Kenneth Blanchard dan didasarkan pada teori orisinil Blanchard dan Hersey. Menurut versi yang direvisi ini, pemimpin yang efektif harus mendasarkan perilaku mereka pada tingkat perkembangan anggota kelompok untuk tugas-tugas tertentu.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.