Teori Motivasi Taylor bag 2 

Menurut teori motivasi Taylor, pekerja hanya bisa dimotivasi oleh uang. Maka pekerja harus diawasi dengan ketat, tugas mereka dibuat sesederhana mungkin, karyawan dilatih bekerja  secara efisien, dan penggajian diberikan berdasar hasil kerja. 

Ini akan menciptakan situasi saling menguntungkan. Pekerja didorong untuk bekerja keras demi mendapatkan upah lebih banyak dan produksi bisnis dapat berlangsung seefisien mungkin dan pada muaranya keuntungan bisa dimaksimalkan.

Karena Teori Motivasi Taylor didasarkan pada manajer yang memberi tahu karyawan apa yang harus dilakukan, itu terkait erat dengan gaya kepemimpinan otokratis .

Ini juga terkait erat dengan model manajemen motivasi Teori X Douglas McGregor , di mana diasumsikan bahwa karyawan pada dasarnya malas dan tidak termotivasi.

Karya Taylor sangat mempengaruhi metode produksi pada awal abad ke-20. Teori ini membentuk dasar pola produksi yang saat itu dianggap revolusioner. Ketika Henry Ford memperkenalkan teknik produksi massal berantai untuk produksi mobil model T.

Teori Manajemen Ilmiah, kadang-kadang juga disebut Taylorisme, seolah terdengar kuno, tapi sebenarnya masih digunakan hingga sekarang. Hal ini terutama terjadi jika perusahaaan perlu tetap kompetitif dalam industri padat karya dengan menjaga biaya serendah mungkin. Contoh yang bisa kami perlihatkan meliputi:

Perusahaan penjualan online Amazon yang membayar staf gudangnya menggunakan tarif per satuan sesuai dengan seberapa produktif staf itu. Perusahaan ini bahkan menggunakan sistem pelacakan berbasis pergelangan tangan untuk memantau pergerakan stafnya agar efisien.

Setiap restoran McDonalds di seluruh dunia terlihat sama, dan instruksi membuat burger sama persis di setiap cabang di seluruh dunia. Bahkan proses mengepel lantai restoran ini juga sama persis di seluruh dunia. Ini merupakan sebuah contoh memecah pekerjaan menjadi potongan-potongan kecil dan kemudian melatih pekerjanya cara paling efisien dalam merampungkan sebuah pekerjaan. 

Itulah sebagian contoh Taylorisme yang digunakan pada saat ini.

Lalu bagaimana menggunakan model teori Taylor. Proses Manajemen Ilmiah Taylor diringkas sebagai berikut:

1. Sains, bukan aturan praktis.

Bukannya melakukan pekerjaan dengan cara yang umum dilakukan, Taylor menyarankan agar setiap pekerjaan dipelajari secara ilmiah agar bisa mengidentifikasi cara paling efisien untuk melakukan pekerjaan itu.

Taylor menganjurkan menggunakan studi waktu dan gerak sebagai cara untuk mengejar efektifitas tersebut. Cara ini sering melibatkan pengamatan terhadap pekerja yang dinilai paling efisien untuk mengidentifikasi bagaimana  ia bisa begitu efisien.

Tujuan utamanya adalah untuk mencari detail efektifitas suatu pekerjaan.  Lalu itu dijelaskan secara berulang pada yang lain bagaimana melakukan pekerjaan dengan cara yang paling efisien. Dengan begitu, setiap orang dalam organisasi yang melakukan pekerjaan ini dapat dilatih untuk melakukannya dengan cara yang paling efisien.

2. Melatih karyawan secara ilmiah.

Karyawan jangan dibiarkan melatih dirinya sendiri. Sebaliknya, setiap karyawan harus dilatih dengan tepat bagaimana setiap tugas harus dilakukan.

Taylor tidak membolehkan karyawan berpikir untuk dirinya sendiri, menurutnya pekerjaan karyawan tiada lain hanya menjalankan tugas sederhana secepat mungkin dan seefisien mungkin. Singkatnya, pekerja hanya dibayar untuk melakukan sesuatu, bukan berpikir.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.