Ringkasan Buku Good to Great – Konsep ke-3, Menghadapi Kejamnya Kenyataan

Jika organisasi telah memiliki Kepemimpinan tingkat ke-5, dan orang yang tepat, maka individu di dalamnya dapat menempatkan kinerja perusahaan di atas ego diri sendiri. Ini membuat organisasi akan siap menghadapi pahit-kejam kenyataan, tanpa kehilangan kepercayaan bahwa organisasi akan sukses.

Hasil yang bagus hanya dapat dicapai ketika banyak keputusan dibuat dengan tepat dan dieksekusi dengan baik. Untuk membuat keputusan yang tepat, organisasi perlu menghadapi fakta, bahkan jika fakta itu pahit dan kejam. Untuk menghindari distorsi fakta, organisasi membutuhkan iklim yang mengedepankan objektifitas.

Ada empat cara untuk menciptakan iklim seperti itu:

Memimpin dengan pertanyaan.

Pemimpin perusahaan yang hebat memulai dengan asumsi bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Mereka mengajukan pertanyaan sampai gambaran realitas dan implikasinya muncul. Pertanyaan menyelidik yang terus-menerus memunculkan kenyataan secara perlahan ke permukaan.

Berkebalikan dengan pemimpin yang menganggap dirinya memiliki semua jawaban dan hanya perlu membuat timnya mengeksekusi. Ia cenderung membuat keputusan yang buruk karena tidak memiliki pemahaman yang benar tentang fakta.

Membiasakan dialog dan meniadakan paksaan.

Pemimpin mau terlibat dalam perdebatan panas, bahkan setuju untuk tidak setuju, tetapi tidak pernah memaksakan pendapat.

Melakukan evaluasi tanpa menyalahkan dan menggunakannya untuk belajar.

perusahaan besar sekalipun membuat kesalahan. Tapi perusahaan hebat tidak menyembunyikan kesalahan, mereka mencoba belajar dari itu dan tidak pula mencari orang yang bisa dipersalahkan.

Membangun mekanisme alarm peringatan.

Maksudnya, perusahaan hebat memperhatikan apa yang terpenting dan mengabaikan selainnya. Mereka mengubah data mentah menjadi informasi yang tidak dapat diabaikan.

Manfaat dari kesiapan menghadapi berbagai kenyataan, diantaranya:

  • Organisasi menjadi lebih tangguh.
  • Orang-orang menjadi bersemangat menghadapi tantangan yang tampaknya mustahil.
  • Mampu meredam pemimpin karismatik. kenyataan lebih penting daripada pemikiran pemimpin tentang bagaimana pasar harus berperilaku.
  • Pemimpin akan dipandu oleh fakta, bukannya kepribadian.
  • Membuat motivasi tetap tinggi. Realitas pasar tidak akan melemahkan motivasi semua orang. Mereka akan melalui semuanya.
  • Menciptakan dualitas. Di satu sisi ada yang menerima kenyataan pahit. Di sisi lain, ada yang mempertahankan keyakinan bahwa perusahaan pada akhirnya akan berhasil meski butuh waktu bertahun-tahun.

Sehubungan dengan dualitas penerimaan kenyataan, terdapat teori yang disebut Paradoks Stockdale. Stockdale merupakan seorang tawanan perang Vietnam yang ditahan selama 7 tahun sebelum akhirnya merasakan kebebasan. Selama itu ia merasakan beragam siksaan bersama tawanan yang lain.

Ketika ditanya bagaimana perasaannya menghadapi beratnya siksaan selama bertahun-tahun, dia hanya merasa bahwa dia tidak pernah ragu bahwa dia akan sanggup bertahan.

Saat ditanya orang seperti apa yang tidak bertahan, Stockdale mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang optimis. Orang-orang yang, misalnya, percaya bahwa mereka akan keluar sebelum peringatan tahun baru mendatang. Tahun baru pun tiba, lalu tahun baru lagi, hingga beberapa tahun berlalu. Dan akhirnya, mereka menyerah dan mati dengan demoralisasi dan patah hati.

Paradoks Stockdale adalah filosofi dualitas yang melibatkan kedisiplinan penerimaan saat menghadapi kejamnya kenyataan. Tapi secara bersamaan berusaha tidak kehilangan keyakinan akan datangnyakebahagiaan.

Bisnis, dan tentu saja kehidupan, pasti akan memunculkan bermacam kesulitan dalam hidup kita. Tetapi bagaimana kita menangani kesulitan-kesulitan inilah yang akan memiliki dampak terbesar pada perjalanan hidup dan bisnis kita.

Singkatnya, kesiapan menghadapi kejamnya kenyataan berarti terus mempertahankan tujuan ambisius sembari terus menyesuaikan rencana setiap hari ketika kenyataan baru muncul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.