Permodelan Greiner

Model Pertumbuhan Greiner menggambarkan beberapa fase yang dialami organisasi saat mengalami perkembangan ukuran. Fase-fase ini berlaku untuk semua organisasi di semua industri.

Ini adalah alat yang dapat digunakan organisasi untuk memahami alasan yang mendasari masalah yang mungkin dihadapi organisasi yang sedang berkembang. Organisasi diharapkan bisa mengantisipasi masalah ini sebelum terjadi, dan dengan demikian mengambil langkah-langkah untuk menghindarinya.

Permodelan ini berisi enam fase pertumbuhan. Terdapat beberapa sumber masalah yang mungkin terjadi pada akhir setiap fase. Krisis ini terjadi karena perubahan dalam struktur organisasi, kepemimpinan, gaya manajemen, dsb yang diperlukan seiring pertumbuhan organisasi.

Apa saja fase-fase itu?

Fase 1: Kreativitas

Pada tahap ini para pendiri yang menjalankan perusahaan. Mereka berjiwa wirausaha dan fokus menghadirkan produknya. Namun, seiring pertumbuhan perusahaan, mereka kesulitan menangani beban pengelolaan perusahaan – urusan dokumen dan administrasi. Para pendiri mulai stres, dan argumen mengenai keputusan penting terjadi, memunculkan krisis kepemimpinan. Langkah pertama yang harus dilakukan pada kondisi ini adalah menempatkan seorang manajer bisnis yang berpikiran operasional.

Fase 2: Pengarahan

Setelah manajer bisnis berhasil direkrut, perusahaan memasuki fase pertumbuhan kedua. Di sini perusahaan memiliki struktur organisasi, sistem pengarahan, dan komunikasi mulai menjadi lebih formal. Ketika organisasi tumbuh semakin kompleks, tim manajemen tidak lagi dapat secara langsung mengelola semua aktivitas, dan perusahaan memasuki krisis otonomi. Demi mengatasi krisis ini, perusahaan menggunakan pendelegasian untuk memberdayakan manajer tingkat bawah.

Fase 3: Pendelegasian

Para pemimpin mulai melakukan pengecualian dalam beberapa urusan pengelolaan dan pengambilan keputusan didasarkan pada tinjauan berkala. Unit fungsional mungkin mulai diperkenalkan. Ketika perusahaan tumbuh, unit-unit ini mulai membuat keputusan untuk memenuhi objek fungsional atau departemen mereka sendiri, menjauh dari tujuan organisasi secara keseluruhan, dan organisasi memasuki krisis kendali. Solusi untuk masalah ini adalah beralih dari pengendalian ke koordinasi.

Fase 4: Koordinasi

Organisasi bergerak menjauh dari unit fungsional dan menuju pembentukan unit produk. Fungsi pendukung horizontal ditetapkan dalam organisasi selama fase ini. Namun, seiring waktu, perusahaan memasuki krisis birokrasi, di mana fokus pada proses yang memungkinkan organisasi untuk tumbuh sekarang menjadi tujuan daripada sarana untuk mencapai tujuan.

Fase 5: Kolaborasi

Organisasi menjadi berorientasi matriks dengan tim yang berfokus pada produk yang tersebar di berbagai fungsi untuk memungkinkan pertumbuhan sekali lagi. Organisasi lalu memasuki krisis pertumbuhan internal – semakin lambat dan tidak mampu cepat beradaptasi terhadap perubahan pasar.

Fase 6: Aliansi

Organisasi mencoba mengatasi krisis pertumbuhan internal dengan mengadakan aliansi, seperti merger, atau memiliki perusahaan induk untuk menjalankan bisnis yang berbeda secara terpisah.

Setelah mengetahui fase-fase ini, bagaimana cara memahami potensi masalah pertumbuhan dalam organisasi Anda.

Langkah 1: Tentukan di fase mana Anda berada saat ini.

Langkah 2: Tentukan apakah Anda dekat dengan titik krisis untuk fase itu.

Langkah 3: Tentukan langkah apa yang perlu diambil oleh tim Anda untuk membuat transisi ke fase berikutnya semulus mungkin.

Langkah 4: Pelajari dan analisis saat perubahan terjadi.

Langkah 5: Ulangi proses ini setiap 6 hingga 12 bulan.

Demikianlah, penggunaan model ini secara konsisten bisa membantu Anda menemukan masalah dalam pertumbuhan organisasi sebelum terjadi dan bisa mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.