Keterampilan Utama Kepemimpinan Strategis (bag 4)

Terdapat enam keterampilan yang memungkinkan para pemimpin untuk berpikir secara strategis, yaitu: kemampuan mengantisipasi, menantang status quo, menafsirkan, memutuskan, menyelaraskan, dan belajar.

Di bagian sebelumnya kita telah membahas kemampuan ke-4, yaitu kemampuan memutuskan, disertai dengan sebuah contoh cerita. Pada bagian ini kita melanjutkan pembahasan kemampuan memutuskan dengan merinci sekiranya apa saja yang bisa Anda lakukan untuk mengasah kemampuan ini.

Untuk meningkatkan kemampuan Anda dalam memutuskan:

  • Bangun ulang keputusan biner, yaitu keputusan yang telah mengerucut pada pilihan ya atau tidak, dengan secara eksplisit mempertanyakan kembali pada tim Anda, “Adakah pilihan lain yang kita miliki selain ini?”>/li< >li/li< >li/li< >li/li< >li/li< >li/li< >/ul< >h2<5. Menyelaraskan>/h2< Para pemimpin strategis harus mahir dalam menemukan titik temu dan mencapai persetujuan di antara para pemangku kepentingan yang memiliki pandangan dan agenda yang berbeda. Proses pencarian titik temu yang terbaik membutuhkan pendekatan yang aktif. Keberhasilan bergantung pada komunikasi yang proaktif, pembangunan kepercayaan, dan keterlibatan yang intens. Untuk melukiskan kemampuan membangun keselarasan, kembali kita akan membuat suatu cerita. Kita memiliki seorang eksekutif perusahaan produk makanan yang bertanggung jawab atas pengembangan pasar daerah. Ia tidak kenal lelah dalam mencoba mengembangkan bisnis di daerah tanggung jawabnya. Namun dia kesulitan mendapatkan dukungan dari rekan-rekan baik itu dari pusat maupun dari daerah yang lain. Frustrasi karena rekan sesama eksekutif yang lain tidak memiliki antusiasme yang sama dengannya atas peluang di daerahnya, dia terus memutuskan untuk terus maju sendirian. Dalam prosesnya itu semakin menjauhkan dirinya dengan yang lain. Namun Sebuah survei internal mengungkapkan bahwa rekan-rekannya tidak sepenuhnya memahami strateginya dan dengan demikian ragu-ragu untuk mendukungnya. Akhirnya ia sadar, ia harus membalikkan keadaan. Didasari hasil survey internal, ia berkeyakinan bahwa ia akan bisa mewujudkan keselarasan tindakan dengan rekan-rekannya bila ia mampu menyelaraskan pemahamannya dengan pemahaman rekan yang lain. Dia mulai mengadakan pertemuan tatap muka secara teratur dengan rekan eksekutif yang lain. Pada setiap pertemuan itu dia menjelaskan dengan lebih terperinci tentang potensi, rencana, dan proyeksi pertumbuhan bisnis di daerahnya. Saat melakukan perbincangan itu ia secara aktif mengharap partisipasi rekan kerjanya dengan meminta umpan balik berkenaan dengan ide-idenya. Ia juga tidak mau terlalu keras kepala dengan mau mempertimbangkan sudut pandang berbeda yang ditawarkan oleh rekan eksekutif yang lain. Lambat laun seiring semakin intens pertukaran ide terjadi, rekan yang lain mulai melihat manfaat rencana bagi fungsi dan lini bisnis mereka. Dengan kolaborasi yang lebih luas, penjualan semakin meningkat, dan ia kini melihat rekan-rekannya sebagai mitra strategis bukan lagi sebagai penghambat yang tidak mau peduli dengan usaha kerasnya. bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.