Keterampilan Utama Kepemimpinan Strategis (bag 5)

Terdapat enam keterampilan yang memungkinkan para pemimpin untuk berpikir secara strategis, yaitu: kemampuan mengantisipasi, menantang status quo, menafsirkan, memutuskan, menyelaraskan, dan belajar. Pada bagian ini kita melanjutkan pembahasan kemampuan ke-5 dan ke-6, yang juga merupakan bagian terakhir dari serangkaian tema ini.

Untuk meningkatkan kemampuan Anda menyelaraskan:

  • Berkomunikasi lebih awal dan berusaha mengeliminasi dua keluhan paling umum dalam organisasi yang diwakili oleh pernyataan: “Tidak ada yang pernah bertanya kepada saya” dan “Tidak ada yang pernah memberi tahu saya.”>/li< >li/li< >li/li< >li/li< >li/li< >li/li< >/ul< >h2<6. Belajar>/h2< Pemimpin strategis adalah titik inisiatif pembelajaran organisasi. Ia adalah sosok pemimpin yang mempromosikan budaya penyelidikan, mencari pembelajaran baik dari keberhasilan maupun kegagalan. Ia mempelajari kegagalan — dari pribadi atau tim — secara terbuka dan konstruktif untuk menemukan pelajaran tersembunyi. Sebagai ilustrasi, seorang CEO beserta tim kepemimpinan senior melakukan Penilaian Mandiri terhadap Kecakapan Strategis yang mereka miliki. Mereka menemukan bahwa pembelajaran adalah bidang kepemimpinan terlemah secara kolektif. Di semua tingkat perusahaan, muncul kecenderungan untuk menghukum daripada belajar dari kesalahan, yang berarti bahwa para pemimpin sering berusaha keras untuk menutupi kesalahan mereka sendiri dan sibuk mencari kambing hitam. CEO menyadari bahwa budaya harus berubah jika perusahaan ingin menjadi lebih inovatif. Di bawah kepemimpinannya, tim meluncurkan tiga inisiatif yang diharapkan memicu terbangunnya budaya belajar: (1) program publikasi cerita tentang proyek yang awalnya gagal tetapi akhirnya menghasilkan solusi kreatif; (2) sebuah program untuk melibatkan tim lintas divisi dalam eksperimen memecahkan masalah pelanggan — dan kemudian melaporkan hasilnya, tanpa melihat apakah itu berujung keberhasilan atau kegagalan; (3) kompetisi inovasi untuk menghasilkan ide-ide baru dari seluruh bagian organisasi. Sementara itu, sang CEO sendiri menjadi lebih terbuka dalam mengakui kesalahan langkahnya. Dia menjelaskan kepada sekelompok karyawan berpotensi besar bagaimana ia pernah terlambat menjual unit bisnis yang terhenti cukup lama mengakibatkan perusahaan tersebut gagal mengakuisisi perusahaan yang bisa memperluas pangsa pasar. Pelajarannya adalah dia harus lebih siap memotong kerugian atas investasi yang berkinerja buruk. Seiring waktu, budaya perusahaan bergeser ke arah pembelajaran bersama dan inovasi yang lebih berani. Untuk meningkatkan kemampuan Anda belajar:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.