Mengapa Empati Penting dan Cara Melatihnya (1)

Saat Anda membayangkan seorang programer, apakah yang terlintas di benak Anda? Sebagian besar kita akan memikirkan seorang yang introvert, suka duduk berlama-lama di depan komputer, canggung saat bersosialisasi, cerdas, dan fokus saat mengerjakan sesuatu. Sebuah lembaga penelitian di Jerman pernah meriset tentang stereotip ini. Ternyata hasilnya ini tidak sepenuhnya salah.

Seorang teman yang juga memiliki keahlian programming juga memiliki kepribadian yang kurang lebih sama. Ia seringkali kesulitan mengungkapkan isi pikirannya dalam bentuk percakapan, begitu pula saat ia memahami ucapan orang lain. Ia lebih mahir dengan menggunakan tulisan.

Menurutnya, ia merasa nyaman ketika hanya menghadapi seseorang atau bila hanya sendirian. Ia merasa tidak nyaman ketika berada di keramaian. Ia merasa begitu lelah setelah berurusan dengan banyak orang karena ia harus berpikir keras saat mencoba memahami interaksi yang ia jalani bersama orang lain. Berbeda jauh saat ia melihat ribuan istilah pemrograman, semuanya seolah mengalir begitu saja dan tiba-tiba waktu sudah berlalu berjam-jam.

Menurutnya lagi, jika ia bisa menjalani hidup dengan berbicara tanpa perlu mendengar, mendengar tetapi tanpa perlu memahami, maka waktu sendirian dan waktu dalam kelompok akan sama-sama menyenangkan bagi dirinya. Tapi itu tidak bisa, dan ia menyadari bahwa ia tidak mungkin melakukannya.

Walau seperti itu, yang patut dikagumi dari sosok teman ini adalah kemauannya untuk terus belajar merasa lebih nyaman saat bersama orang lain. Ia memang bukan ahli atau bahkan luar biasa dalam hal hubungan sosial, tetapi ia terus berusaha secara sadar dan konsisten belajar. Hal yang dilakukan sosok teman ini yang disebut “empati”.

Menurut KBBI, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Definisi yang lain: tindakan memahami, menyadari, peka terhadap, dan mengalami sendiri perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain baik di masa lalu atau sekarang tanpa perasaan, pikiran, dan pengalaman yang sepenuhnya dikomunikasikan secara eksplisit secara objektif—Merriam Webster

Mengapa Berlatih Empati?

Mengapa Anda harus secara eksplisit berupaya meningkatkan kemampuan Anda untuk berempati dengan orang lain? Anda akan menjadi pemimpin yang lebih baik, pengikut yang lebih baik, dan yang paling penting, teman yang lebih baik.

Cara Berlatih

Berikut adalah beberapa ide bagaimana mengembangkan empati Anda.

Mendengarkan

Dengarkan baik-baik ketika orang berbicara kepada Anda. Percakapan, terutama mengenai topik yang seru, sering kali membentuk ritme pembicaraan timbal balik yang cepat, masing-masing pihak memulai suatu poin tepat sebelum mitra percakapan mengakhiri poinnya. Anda tentu pernah berada dalam situasi seperti ini. Sebelum lawan bicara selesai dengan ucapannya, Anda telah merumuskan tanggapan Anda, dan Anda tidak sabar untuk mengatakannya.

Lain kali ketika Anda menyadari diri Anda dalam percakapan seperti ini, usahakan pelan-pelan. Paksa diri Anda untuk meresapi kata-kata yang Anda dengar. Pikirkan motivasi pembicara di balik apa yang dia katakan. Pikirkan kehidupan dan pengalaman kerja yang mengarah pada pandangan dunianya saat ini.

Tanggapi secara visual dan secara verbal ( mengucap “ah”, “oh”, “ya?”) tetapi biarkan setidaknya satu detik berlalu sebelum merespons secara lisan. Ajukan pertanyaan lanjutan untuk lebih memahami apa yang dimaksudkan pembicara atau bagaimana perasaan mereka sebelum Anda menanggapi dengan pendapat Anda sendiri. Mudah-mudahan Anda akan membutuhkan lebih banyak waktu sebelum berbicara, karena Anda terlalu fokus pada pembicara untuk mulai mempersiapkan tanggapan Anda.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.