Pelatihan Digital yang Semakin Menjadi Kebutuhan

Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi pasca-COVID, kita perlu memikirkan pemanfaatan pembelajaran online. generasi pekerja saat ini menginginkan pengalaman pelatihan kerja yang dipersonalisasi dan menarik. Pelatihan yang mengutamakan format digital dapat memberikan pengalaman yang sangat dibutuhkan oleh tenaga kerja modern.

Pelatihan yang dipandu instruktur biasanya diukur dengan jumlah jam kelas. Pengukuran itu ada terutama karena konten kelas perlu penjadwalan waktu khusus. Pelatihan digital membutuhkan pengukuran yang berbeda. Program pelatihan yang mengutamakan format digital menekankan pada pengukuran kompetensi yang didapat oleh peserta.

Tujuan utama dalam menyusun materi pelatihan digital adalah bagaimana mencapai kompetensi dan kepercayaan diri peserta pelatihan secepat mungkin. Format pelatihan digital memiliki keunggulan dalam memberikan umpan balik yang dipersonalisasi. Alih-alih menyusun tahapan pembelajaran linier, program pelatihan online dapat mengakomodasi kemungkinan pengguna yang bebas memilih modul pelatihan sesuai kebutuhannya. Ini membantu pengguna mengakses konten yang tepat pada saat yang tepat untuk menyelesaikan pekerjaan.

Berikut ini adalah hal yang patut Anda pertimbangkan dan Anda hindari ketika mengembangkan materi pelatihan berbasis digital. Dengan begitu diharapkan agar bisa menempatkan program pelatihan digital Anda pada jalur yang benar:

Hal yang harus Anda pertimbangkan

  • Memungkinkan peserta bergerak bebas menjelajahi materi, atau bahkan berpindah, antara bagian awal, tengah, dan akhir.
  • Menyediakan jalur pembelajaran yang dipersonalisasi dan berbagai format (audio, visual, dan teks).
  • Memisahkan konten ke dalam modul pembelajaran mikro.
  • MENandai setiap modul sehingga memudahkan menemukan materi yang dibutuhkan.
  • Menilai peserta didik secara berkala untuk memungkinkan pembelajaran adaptif.

Hal yang patut dihindari

  • Merancang materi pelatihan secara linier karena peserta mengonsumsi konten online ini secara sporadis.
  • Memblokir peserta membuka modul yang berbeda berdasarkan penyelesaian modul sebelumnya.
  • Fokus pada jumlah jam yang dihabiskan untuk pelatihan. Penekanan lebih pada kompetensi peserta.

Tahapan ketika melakukan transisi menuju pelatihan digital.

Di bawah ini, Anda akan menjumpai tiga tahap yang dilalui organisasi saat bertransisi ke program pelatihan online sepenuhnya. Dengan mengetahui hal ini, Anda bisa melihat di mana posisi organisasi Anda berada.

Tahap 1 — Pendekatan sSatu kurikulum untuk semua. Organisasi telah mengalihkan pelatihan konvensional yang dipimpin instruktur menjadi pelatihan online, tetapi tidak melakukan perubahan desain materinya. Anda dapat mengubah konten yang sudah ada menjadi modul pembelajaran mikro atau memakai jasa vendor untuk membantu.

Tahap 2 — Saat merancang pembelajaran yang dipersonalisasi, tim pelatihan sering kali membatasi peserta. Mereka membuat asumsi bahwa peserta ini menginginkan pelatihan mandiri atau peserta membutuhkan bimbingan instruktur. Untuk menentukan ini tim bisa menggunakan penilaian diagnostik atau survei preferensi peserta untuk membuat jalur yang dipersonalisasi.

Tahap 3 — Organisasi sudah memiliki strategi pelatihan digital, tetapi mereka dapat terus menyempurnakannya dengan menggunakan analisis data. Dengan data yang tepat, tim pelatihan akan dapat melihat kesenjangan keahlian organisasi dan secara proaktif merancang pelatihan untuk mengatasinya.

Program pelatihan digital tidak hanya memberikan hasil bisnis, tetapi juga mengurangi biaya pembuatan konten. Tidak seperti pelatihan konvensional yang dipandu oleh instruktur, aset digital dapat digunakan kembali atau diperbarui, yang menurunkan biaya untuk membuat konten baru. Dengan berinvestasi dalam desain pelatihan yang mengutamakan digital dalam jangka panjang, Anda akan meningkatkan kemampuan organisasi untuk menskalakan dan membuat aset digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.