Dimensi Budaya Trompenaars bag 3

Konsep dimensi budaya memaparkan bagaimana kita melakukan pendekatan masalah pekerjaan dihubungkan dengan konteks budaya. Pada bagian sebelumnya kita telah membahas poin pertama hingga ketiga dari total 7 poin. Berikut adalah kelanjutannya.

4. Dipisah atau dicampur

Aspek Dimensi Budaya Trompenaars ini dapat dipahami dengan mempertanyakan apakah urusan profesi dengan urusan kehidupan pribadi cenderung dipisah atau dicampur?

Dalam budaya yang cenderung memisahkan kehidupan pribadi dan urusan pekerjaan, masyarakatnya tidak membiarkan terjadinya tumpang tindih antara dua bidang itu. Budaya ini cenderung memiliki jadwal yang terfokus danto the point dalam komunikasi. Mereka lebih fokus pada tujuan daripada hubungan. Contoh masyarakat yang mengadopsi budaya ini diantaranya Jerman, AS, Inggris, dan Belanda.

Sebaliknya dalam budaya yang menggabung urusan pekerjaan dengan urusan pribadi, masyarakat cenderung menilai kehidupan pribadi dan pekerjaan mereka memiliki keterkaitan. Budaya ini percaya bahwa tujuan dapat dicapai dengan lebih baik ketika dilandasi hubungan yang kuat. Dengan begitu, dalam budaya ini rekan kerja lebih banyak bersosialisasi satu sama lain di luar pekerjaan. Budaya ini lebih sopan dan lebih menghormati usia, status, dan latar belakang. Contoh budaya ini antara lain ditemui pada masyarakat Cina, India, Argentina, dan Spanyol.

Kiat saat bekerja dalam budaya yang memisah pekerjaan – kehidupan pribadi:

  • Kondisikan agenda rapat Anda.
  • Sebisa mungkin jangan berubah dari agenda awal Anda.
  • Fokus pertama adalah membicarakan target yang harus dicapai tim. Keperluan sosialisasi menyusul kemudian.

Kiat saat bekerja dalam budaya yang mencampur pekerjaan – urusan pribadi:

  • Lakukan sosialisasi sebelum Anda mulai membicarakan target pekerjaan.
  • Bersiaplah mendapat bermacam undangan menghadiri acara sosial dari rekan kerja. Usahakan untuk menghadiri undangan itu.
  • Bersiaplah untuk mendiskusikan bisnis dalam situasi sosial dan masalah pribadi di tempat kerja.

5. “Menurut apa” atau “menurut siapa”

Dimensi Budaya Trompenaars ini dapat dipahami dengan menanyakan apakah status seseorang berasal dari pembuktian atau berasal dari pemberian?

Maksud dari pembuktian di sini adalah suatu status yang diperoleh karena telah melakukan pembuktian atas apa yang bisa dilakukan seseorang. Budaya ini menilai seseorang menurut apa yang dilakukannya, tidak memperhatikan siapa dia. Individu memperoleh statusnya melalui pengetahuan atau keterampilan. Jabatan pada pekerjaan diperoleh dengan usaha dan sekaligus mencerminkan tingkat pengetahuan dan keterampilan. Siapapun dapat menentang sebuah keputusan jika disertai dengan argumen yang logis. Contoh masyarakat yang menganut budaya ini adalah Inggris, Jerman, dan Skandinavia.

Dalam budaya yang menekankan pada siapa, seseorang diberi status menurut siapa dirinya. Ini bisa karena status sosial, pendidikan, atau usia. Seseorang mendapatkan rasa hormat dalam budaya ini karena komitmen pada organisasi, bukan semata-mata karena kemampuan. Sebuah keputusan hanya akan ditentang oleh seseorang dengan otoritas yang lebih tinggi. Contoh budaya yang seperti ini adalah Jepang, Italia, dan Prancis.

Kiat ketika bekerja dengan budaya yang menekankan pada pembuktian:

  • Berikan pujian kepada individu di depan teman-temannya.
  • Hindari penggunaan gelar atau semacamnya.
  • Hargailah kinerja individu.

Kiat saat bekerja dalam budaya yang cenderung melihat siapakah seseorang:

  • Gunakan gelar, titel atau semacamnya saat berhubungan dengan rekan kerja. Jika Anda ingin mengkritik keputusan atasan, sampaikan dengan hati-hati.
  • Berikan perhatian ekstra untuk menunjukkan rasa hormat kepada atasan Anda.

berlanjut ke bagian ke-4.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.