Perencanaan dan Risiko (bag 2) – Contoh

Terdapat metode pembangunan piramida dengan cara tertentu sehingga piramida akan siap kapanpun firaun meninggal, walaupun dia meninggal secara tiba-tiba di masa jayanya atau hidup sampai usia lanjut. Metode ini akan tetap berfungsi bahkan jika perang atau wabah yang tak terduga akan menghapus separuh tenaga kerja.
Piramida dibangun dalam ukuran sewajarnya dengan menyertakan semua ruang utama yang dibutuhkan untuk pemakaman firaun. Setelah pembangunan selesai, jika firaun masih hidup, maka pembangunan bisa dilanjutkan dengan menambahkan ruang dan dinding pada sisi luar piramida yang telah jadi. Seiring waktu berjalan penambahan ini bisa diulang hingga firaun tutup usia.

Dengan menggunakan pendekatan ini, piramida akan bisa digunakan pada saat dibutuhkan, walaupun jika waktu yang tersedia atau anggaran berkurang. Ini akan menjadi piramida berukuran besar jika firaun hidup sampai usia lanjut. Namun, jika firaun tutup usia di pertengahan tahapan konstruksi, maka Anda tidak terlalu terburu-buru untuk menyelesaikan bagian yang saat ini sedang dikerjakan.

Contoh: Membangun Layanan Internet

Misalnya, Anda diminta untuk membangun sebuah layanan Internet dan Anda diberi waktu enam bulan untuk menyelesaikannya. Langkah logis pertama yang harus dilakukan untuk mengerjakan proyek ini mungkin adalah merancang arsitektur dan layanan inti platform, dan kemudian membangun pengalaman pengguna di atasnya. Secara sederhana Anda merencanakan pekerjaan arsitektur dan layanan inti selama tiga bulan dan menyisakan tiga bulan untuk menyelesaikan pengalaman pengguna.

Kita asumsikan bahwa arsitektur dan layanan inti sebenarnya membutuhkan waktu 5 bulan untuk dibangun. Lalu apa selanjutnya? Anda akan terburu-buru untuk menyelesaikan pengalaman pengguna agar dapat menyesuaikan tenggat waktu. Selain itu, Anda juga akan menyia-nyiakan investasi, karena telah merancang arsitektur dan membangun layanan inti yang tidak akan dapat digunakan. Di sini Anda telah melakukan kesalahan yang sama seperti pembuat piramida pertama dengan mengasumsikan bahwa proyek harus dimulai dengan dasar arsitektur dan layanan inti yang kuat sebelum membangun pengalaman pengguna.

Anda bisa meniru pendekatan pembangunan piramida kedua. Misalnya, Anda membangun bagian terpenting arsitektur inti beserta fitur pendaftaran terlebih dulu dan pastikan itu berfungsi dengan baik.Kemudian dilanjutkan dengan arsitektur inti berikutnya disertai fitur penting yang lain. Selanjutnya membangun arsitektur dan fitur pelengkap. Dengan cara ini tidak pernah ada bahaya investasi yang sia-sia. Selain itu, dengan umpan balik berkelanjutan membuat proyek tetap bergerak ke arah yang benar.

Penyusunan perencanaan dan risiko yang dijelaskan di atas memang berlawanan dengan intuisi, tetapi memperlihatkan bahwa dengan memasukkan variabel paling minimal dalam penentuan rencana dapat memperkecil risiko proyek, sehingga kemungkinan besar rencana akan berhasil. Pendekatan yang dijelaskan di atas sering digunakan untuk membangun bagian kecil dari keseluruhan proyek yang lebih besar, tetapi juga dapat diaplikasikan pada pekerjaan yang lebih besar.

Demikianlah gambaran manfaat memasukkan manajemen risiko ke dalam proses perencanaan, jika dibandingkan dengan hanya menjadikannya sesuatu yang dilakukan setelah atau sebagai tambahan dari perencanaan proyek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.