Mempertahankan Motivasi Karyawan Menggunakan Teori Ekuitas bag 2

Setelah pada bab sebelumnya kita memahami masukan dan keluaran pada teori ekuitas, kita sekarang berada dalam posisi untuk mendefinisikan ekuitas. Ekuitas didefinisikan sebagai keluaran dibagi dengan masukan seorang individu. Dengan istilah lain: hasil yang didapat individu dibagi kontribusi yang diberikan individu yang sama.

Teori Ekuitas Adam melangkah lebih jauh dan menyatakan bahwa individu tidak hanya memahami kesetaraan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, ia melihat sekeliling dan membandingkan dirinya dengan orang lain. Jika ia merasakan ketidakadilan maka ia akan menyesuaikan kontribusi yang ia berikan untuk mengembalikan keseimbangan. 

Pada dasarnya, yang dimaksud dalam hal ini adalah bahwa individu akan selalu menyesuaikan kontribusinya sehingga selalu terjadi keseimbangan. Jadi, jika seseorang percaya bahwa hasilnya lebih rendah daripada kontribusinya dibandingkan dengan orang lain di sekitar dirinya, ia akan kehilangan motivasi. 

Demikian juga, seorang individu perlu meningkatkan kontribusinya jika hasilnya lebih besar daripada mereka yang melakukan pekerjaan yang persis sama. Pada dasarnya, seorang individu dalam suatu organisasi akan selalu berusaha untuk menjaga kewajaran (equity) dalam keseimbangan:

Bagaimana kita memperbandingkan diri sendiri dengan pihak lain atau kelompok referensi? Kelompok Referensi hanyalah kumpulan orang yang digunakan individu untuk tujuan perbandingan. 

Menurut Teori Motivasi Ekuitas Adam, ada empat kelompok referensi yang dijadikan pembanding:

Self-inside: pengalaman individu dalam organisasinya saat ini.

Di luar diri: pengalaman individu dengan organisasi lain.

Orang lain di dalam: orang lain dalam organisasi individu saat ini.

Orang lain-di luar: orang lain di luar organisasi individu.

Misalnya, ketika seorang akuntan membandingkan apa yang ia peroleh dengan akuntan lain dalam organisasi yang sama, maka kelompok rujukan adalah orang lain di dalam. Jika ia membandingkan dirinya dengan akuntan yang ia kenal secara sosial, maka kelompok rujukannya adalah orang lain di luar. Jika ia membandingkan dirinya sendiri dengan apa yang ia peroleh dalam pekerjaan sebelumnya, maka kelompok rujukan berada di luar dirinya.

Teori Ekuitas Adam masih berlaku bahkan ketika seseorang membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain yang melakukan peran yang sangat berbeda dan mendapatkan kompensasi yang sangat berbeda. 

Kembali kita mengambil contoh seorang akuntan. Ia membandingkan dirinya dengan eksekutif perusahaan tempat ia bekerja yang berpenghasilan 100 kali lebih banyak darinya. 

Bagaimana ini bisa terlihat adil?

Jawabannya adalah si akuntan perlu melihat adanya perbedaan kontribusi. Bahwa ia memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang lebih baik sedangkan seorang eksekutif sering dinas luar. Ia perlu menyadari bahwa eksekutif itu memiliki lebih banyak pengalaman, di samping bekerja lebih lama dan harus menghadapi lebih banyak stres. Dengan cara ini, keadilan dibangun dalam pikiran individu.

Perlu diingat bahwa Teori Ekuitas berlaku dalam arti yang sangat luas. Setiap orang akan menanggapi ketidaksetaraan yang dirasakan dengan caranya sendiri yang khas.

bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.