Mengenal 15 Jenis Soft Skill Profesional (11)

Keterampilan profesional sering kali disebut sebagai soft skills, yaitu keterampilan yang bisa dimanfaatkan dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Dalam serangkaian tulisan ini, kami mendefinisikan apa itu keterampilan profesional, membahas beberapa jenis keterampilan lunak, dan menawarkan saran bagaimana cara mengembangkan keterampilan profesional Anda.

Keterbukaan pikiran

Orang-orang yang memiliki pikiran terbuka mudah menerima pemikiran, metode, dan pengetahuan baru. Orang-orang ini juga senantiasa menghormati, menghargai dan mau belajar dari siapapun. Sebagian besar bidang pekerjaan lebih mengharapkan karyawan yang dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki perspektif berbeda atau berasal dari latar belakang berbeda.

Agar menjadi lebih berpikiran terbuka, coba tumbuhkan kepribadian berikut: Ingin tahu, Mau memperhatikan orang lain, Mau mengintrospeksi diri, Mau merenungkan ulang pemikiran maupun emosinya, Berempati, Mendengarkan secara aktif, Bersedia mendapatkan pengalaman baru, dan Berpikir positif.

Belajar agar berpikiran terbuka adalah mungkin, tetapi itu bukan hal yang mudah. Pikiran kita dirancang untuk melihat konsep secara keseluruhan. Saat menemukan informasi baru, kita cenderung ingin memasukkannya sesuai urutan yang sudah ada dalam proses mental kita. Namun, terkadang hal-hal baru yang kita pelajari tidak berkesesuaian dengan proses mental kita. Dengan begitu, kita harus menyesuaikan ulang pemahaman kita. Untuk melakukan ini, kita harus mengesampingkan penilaian, melihat bukti, dan mengakui bahwa kita salah. Proses ini sulit, membingungkan, dan terkadang menyakitkan atau mengubah hidup.

Melawan bias konfirmasi. Kecenderungan kognitif ini terjadi saat Anda cenderung menerima informasi yang mendukung pemahaman Anda, dan di saat yang sama menolak bukti-bukti yang bertentangan dengan pemahaman Anda. Luangkan waktu untuk mempertimbangkan beberapa argumen yang bertentangan dengan ide Anda. Pelajari cara mengevaluasi sumber informasi. Jadilah penerima informasi yang kritis.

Sediakan waktu untuk berpikir. Ketika Anda mendengar sesuatu yang tidak Anda setujui, insting pertama Anda mungkin ingin mendebatnya atau sekadar mengabaikannya. Bukannya mendengarkan atau memikirkan perspektif lain, Anda langsung berpikir bagaimana membuktikan orang lain salah, bahkan mungkin tanpa menunggu orang lain selesai menyampaikan idenya. Sangat mudah melibatkan respons emosional terhadap sesuatu yang berbeda dengan pemikiran Anda. Saat Anda berusaha merespon perbedaan secepat mungkin, Anda bertindak di saat emosi memanas, kurang mempertimbangkan semua aspek masalah. Setelah mendengar pendapat yang sekiranya berbeda dengan ide Anda, biasakanlah meluangkan beberapa saat untuk mempertimbangkan poin-poin kunci pendapat tersebut sebelum Anda merespons. Membangun pemikiran terbuka membutuhkan lebih banyak upaya kognitif daripada dogmatisme. Berusaha mempertimbangkan perspektif lain merupakan sebuah tantangan, apa lagi bila ternyata pada akhirnya Anda harus merevisi keyakinan Anda sebagai hasilnya.

Berusahalah rendah hati. Ketika Anda percaya bahwa Anda sudah tahu semua yang perlu diketahui, Anda kurang bersedia untuk menerima informasi baru. Ini akan membatasi potensi belajar Anda. Ini juga dapat menjadikan bias kognitif efek Dunning-Kruger. Orang yang melebih-lebihkan pengetahuannya hingga ia buta terhadap ketidaktahuannya. Akan selalu ada lebih banyak hal untuk dipelajari. Jika Anda merasa sudah tahu semuanya, kenyataannya sangat mungkin akan sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.